LNCrawler

Bangunan yang Menjulang Tinggi

The Everlasting Lullaby — gooddreamer.id · All chapters

Bangunan yang Menjulang Tinggi

Derit suara pintu terdengar saat gadis bersurai legam menarik kenopnya. Dinding-dinding batu menjadi bukti usia menara jam yang sedang dikunjungi Iva. Hanya ada satu ruangan berukuran cukup kecil, kemudian di sudutnya ada satu tangga melingkar yang memiliki ratusan anak tangga. Iva sampai melongo karena takjub dengan konstruksi bangunan menara, sampai membutuhkan beberapa menit untuk mengaguminya, baru kemudian Iva mulai menaiki anak tangga tersebut. Suasana menara kala itu sangat hening, tidak ada suara apapun, kecuali derap langkahnya dan denting jarum jam yang semakin lama semakin mengeras.

“Mungkin jika aku menaiki anak tangga ini menggunakan tubuhku pasti aku sudah pingsan,” ucap Iva sembari terus melangkah. Tubuh para Elf memang mengagumkan, mereka memiliki stamina yang jauh lebih besar dari manusia, dan Iva cukup menyukainya. Menjadi makhluk yang berada di satu tingkat di atas para manusia tidak terlalu buruk.

Sejujurnya, sangat menakjubkan berdiri di atas.

Iva terhenti ketika akhirnya perjuangannya menaiki ratusan anak tangga usai. Surai legamnya berterbangan akibat hembusan angin yang cukup kencang. Puncak menara jam memiliki sebuah patung seorang pria dengan rambut panjang tengah merentangkan tangan. Patung yang indah dan membuat Iva terdiam beberapa saat hanya untuk mengagumi sosok tersebut.

Manik violet Iva kemudian beralih pada pemandangan yang terbentang. Langit telah dihiasi corak jingga, ia dapat melihat makhluk bertubuh seperti naga berterbangan menuju matahari. Ia hanya terdiam dan mulai memejamkan mata untuk mencoba merekam momen indah ini. Iva telah menanggalkan sepatunya, sehingga kini kakinya kembali bertelanjang dan menyentuh dinginnya lantai batu. Perlahan Iva melangkah menuju bagian menara yang tidak memiliki pintu. Hembusan angin semakin kencang, bahkan gaunnya mulai melambai-lambai ikut dimainkan angin.

“Baiklah, ini dia … aku akan mengakhirinya sekali lagi. Sepertinya satu minggu menjadi Titania dan melihat dunia ini membuatku bisa mencicipi surga yang mungkin tidak akan kudapat,” kata Iva dengan seulas senyuman getir.

Tentu saja, membunuh dirimu sendiri adalah sebuah dosa. Setelah melakukan dosa sebesar itu bagaimana bisa ia mengharapkan surga milik Tuhan. Ia tidak ingin meminta lebih atas resiko dari perbuatannya, mungkin bisa dibilang ia cukup sadar diri.

Manik violet Iva memperhatikan setiap bagian yang dapat ditemukannya dengan berdiri di atas sana. “ Aku sepertinya memilih tempat yang tepat. Dari pada lautan mungkin langit senja panggung yang tepat untuk mencapai kebebasan dan mengakhiri rantai takdirku.”

Sekali lagi, Iva memejamkan mata. Kali ini ia berbalik menghadap ke arah patung yang ada di bagian dalam menara. “ Maaf, karena tempat ini mungkin akan kotor karena ulahku.”

Beberapa detik setelahnya tubuh Iva telah berada di udara. Ia dapat merasakan gravitasi yang tidak ingin bekerja sama. Iva tersenyum ketika melihat tubuhnya terjatuh dengan cukup cepat. Ia memilih untuk kembali mengakhiri hidupnya, lagi.

Mungkin sekarang, ia tidak berada di tubuhnya. Tetapi itu bukan berarti ia memiliki kewajiban untuk terus menjaga tubuh Titania untuk tetap bernafas. Masa bodoh dengan rantai takdir yang telah disiapkan, Iva sudah merasa muak karena dipermainkan. Ia tidak menginginkan apapun, kecuali kedamaian. Ia sudah terlalu muak untuk tetap bernafas dan merasakan semua rasa sakit itu.

Jika ia tidak memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya, maka ia sendiri yang akan memilih untuk mengakhiri jalan itu. Lagipula, tidak ada yang mengharapkan dirinya di dunia ini. Lalu untuk apa ia hidup?

Iva tidak masalah merasakan rasa sakit pada tubuhnya, jika itu yang harus ditempuhnya untuk mencapai sang kematian tidak masalah. Kini tubuh Iva tidak lagi jauh dari daratan. Hanya kurang beberapa senti sebelum ia terpental dan mungkin berdarah dimana-dimana, seharusnya.

“Apakah kau gila?! Titania, apa yang sedang kau lakukan!?” Sebuah suara berhasil membuat Iva membuka mata. Ia dapat melihat sosok pria bersurai keemasan dengan manik emerald tengah memandangnya marah.

“Kau melempar dirimu dari atas menara untuk apa?!”

Iva baru menyadari, jika kini tubuhnya melayang berkat sosok yang saat ini tengah menggendongnya. Pria asing lainnya terbang dengan sebuah sayap. Helaian bulu-bulu berwarna putih berhasil membawa mereka melesat menuju langit.

“Kau sendiri siapa?! Lepaskan! Kau sangat mengganggu,” pekik Iva yang mulai memberontak dan mencoba melepaskan diri dari dekapan pria asing itu.

“Berhenti! Jangan bergerak, kau akan jatuh. Apakah kau berusaha mati atau semacamnya?”

“Benar! Aku ingin mati! Aku sangat ingin mati, karena itu aku minta kau melepaskanku sekarang, Tuan.” Iva menggigit bahu pria bermanik emerald itu dan berhasil membuatnya melepaskan diri. Tubuh Iva kembali terjatuh, tetapi tidak lama karena sosok bersayap itu kembali menangkapnya.

“Titania, kau menggigitku! Mengapa kau melakukan hal seperti ini? Apakah kau tidak tahu Esther menangis mencarimu,” ucap si pria asing.

Iva memilih diam. Ia tidak menjawab ucapan pria bermanik emerald tersebut. Apakah ia memang harus tahu saat setiap orang menangis? Apakah ia harus menjadi satu-satunya orang yang mengasihani orang lain?

Hati kecil Iva menjawab pertanyaan itu dengan bibir bungkam. Manik violetnya mengkilap berkat butiran bening yang telah menggantung disana, bersiap untuk meluncur. Namun Iva memilih untuk menahannya. Ia tidak ingin pria asing itu melihatnya menangis.

“Maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi jangan membuang nyawamu dengan percuma,” lirih pria bermanik emerald itu sebelum mereka terbang menukik dan mendarat dengan mulus.

“Nona muda! Apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda melakukan hal semacam itu?” Esther berlari dan bertanya dalam tangis. Pelayan Titania itu terlihat bergetar, bahkan riak wajah Esther berhasil membuat Iva terdiam⸺enggan untuk menjawab.

“Esther, aku akan membawa Titania bersamaku. Bisakah kau pergi lebih dulu dan menyiapkan air untuk membantunya membersihkan diri?” tanya pria bermanik emerald yang akhirnya kembali berbicara. Esther mengangguk dan berlari menjauh dari keduanya.

“Aku bisa berjalan sendiri,” ucap Iva ketus.

Ia kembali memberontak dan mencoba untuk berdiri. Namun lututnya ternyata lemas. Tubuh Titania mungkin terlalu terkejut dengan tindakannya barusan. Sehingga pria bermanik emerald itu kembali membawa tubuh Iva dalam gendongannya dan mereka mulai berjalan.

“Kau benar-benar … menyebalkan. Aku tidak butuh diselamatkan atau semacamnya. Apakah kau berusaha menjadi pangeran berkuda putih atau semacamnya,” tandas Iva dipenuhi emosi.

Sayangnya pria itu memilih bungkam dan tetap berjalan. Iva hanya bisa pasrah. Manik violet Iva kembali melihat ke arah bangunan yang menjulang tinggi di belakang mereka. Iva menghela nafasnya kasar. Ia tidak berhenti meracau untuk melampiaskan kekesalannya, karena sekali lagi ia gagal menemui sang kematian. Sedikit saja ia akan menghantam tanah, jika pria itu tidak muncul dan membawanya terbang begitu saja. Benaknya kembali dipenuhi pertanyaan. Mengapa sulit sekali hanya untuk mengakhiri segalanya? Apakah ia dikutuk atau semacamnya sampai ia harus mengalami hal seperti ini? Atau mungkinkah ia memiliki dosa tidak termaafkan di kehidupan sebelumnya?

Tanpa Iva sadari sederet pertanyaan yang membombardir benaknya berhasil meruntuhkan pertahanannya untuk menahan kristal-kristal bening di pelupuk mata. Meski begitu ia tidak juga berhenti untuk mempertanyakan alasan keberadaan dan rantai takdir yang membelenggunya.