LNCrawler

Teman Masa Kecil

The Everlasting Lullaby — gooddreamer.id · All chapters

Teman Masa Kecil

Derap langkah menggema di sepanjang lorong mansion Calebron. Seorang pria bersurai kelam berlari secepat kilat. Ia bahkan beberapa kali hampir menabrak para pelayan. Putra sulung keluarga Calebron tengah membuat keributan malam itu. Tujuan Rouvin hanya satu, pintu dimana ia berdiri yang menghubungkan menuju sebuah ruangan tempat gadis bermanik violet berada. Dan benar saja, gadis itu⸺Titania yang sekarang tubuhnya diambil alih oleh Iva⸺ tengah duduk di atas ranjang.

“Titania!”

Pekikan Rouvin hampir membuat Iva terjungkal dari atas ranjang. Ia berniat untuk meraih gelas di atas nakas, tapi Rouvin tiba-tiba saja telah menerobos masuk dan kini kakak sulung Titania itu duduk di tepi ranjang. Manik violet Iva tidak mampu membalas tatapan dari sosok pria bersurai senada dengan miliknya. Entah bagaimana, Rouvin terlihat cukup menakutkan tapi Iva mencoba untuk terlihat tidak terlalu memperdulikan dan memilih meneguk air dari gelas yang sudah berhasil diambilnya.

“Apa yang kau baru saja lakukan?” tanya Rouvin ketus.

Iva hampir saja tersedak. Nada bicara kakak Titania tiba-tiba berubah total, jika sebelumnya Rouvin selalu merendahkan suaranya ketika berbicara dengan sang adik, kali ini pria itu tidak menaikan maupun menurunkannya. Tetapi justru menjadi datar. Iva mencoba menyembunyikan kegugupannya dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi, meski sebenarnya ia tahu apa maksud Rouvin⸺kejadian beberapa jam lalu yang entah mengapa sudah sampai di telinga putra sulung Calebron tersebut. Kekuatan dari kabar burung memang tidak dapat diremehkan.

“Aku tidak tahu apa maksudmu. Memang aku baru saja melakukan apa?” Iva bertanya dengan riak wajah tenang. Padahal jantungnya berdebar secepat sebuah kereta shinkansen.

Rouvin gemas dan menggeram. Pria itu menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Iva. Gadis bersurai legam itu terkejut. Manik keemasan Rouvin melirik tajam ke arah kaki Iva yang terbalut perban putih⸺entah bagaimana, Iva ternyata melukai pergelangan kakinya.

“Kalau begitu bagaimana kau akan menjelaskan ini?” tanya Rouvin dan berhasil membuat Iva kelimpungan.

“Terkilir, bukankah Esther sudah menjelaskan,” jawab Iva singkat. Esther yang berdiri tidak jauh dari sang nona langsung mendongak saat namanya disebut. Ia langsung menunduk dalam⸺takut bila gadis bermanik violet itu akan memarahinya, sebab telah mengadu kepada si sulung Rouvin. Meski sebenarnya Iva tidak akan melakukan hal yang ditakutkan Esther.

Iva menghembuskan nafasnya, ia memandang ke arah Rouvin tepat di kedua iris keemasannya. “Baiklah, aku akan menceritakan yang sebenarnya. Jadi, alasan aku terjatuh dari atas menara karena aku tergelincir. Kau bisa menanyakan kepada Ibu, hari ini aku menanyakan bangunan apa itu dan ibu menjelaskan. Karena aku sudah tertarik sejak awal, maka aku mencoba untuk mengunjunginya.”

“Aku berbicara jujur. Esther terlalu lama, karena itu aku mencoba menemukan menara itu sendiri dan aku sudah sangat penasaran dengan bagian dalamnya. Ketika aku tiba disana aku menemukan sebuah patung yang sangat menawan,” imbuh Iva lagi.

Pria bersurai legam di hadapan Iva bergeming. Rouvin masih diam dan tidak berkomentar, sehingga Iva memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya. “Aku terlalu mengaguminya sampai tanpa sadar aku mencapai ujung dan terjatuh.”

Tidak ada percakapan setelah Iva menyudahi acara dongeng singkatnya. Rouvin masih tidak memberikan tanggapan dan membuat suasana menjadi semakin tegang. Namun tidak lama, karena tiba-tiba seseorang kembali menerobos masuk ke kamar Iva dan menginterupsi keduanya.

“Itu tidak benar,” sergah pria bermanik zamrud yang telah bersandar di daun pintu. Itu adalah pria yang berhasil menggagalkan rencana Iva beberapa saat lalu.

“Apa maksudmu tidak benar? Memangnya kau melihat kejadian itu?” balas Iva.

Si pria bermanik zamrud itu berdehem beberapa saat sebelum menggeleng. Seutas senyuman samar tersungging di kedua bibir tipis Iva. Tapi senyuman Iva luntur begitu saja setelah pria asing di hadapannya kembali membuka mulut.

“Kalau memang benar kau tergelincir dari atas menara, apa alasanmu memberontak saat aku menyelamatkanmu?”

Bingo! Iva melupakan kejadian dimana ia memberontak dalam dekapan pria bermanik emerald, agar tubuhnya kembali jatuh. Rouvin terkejut, tetapi ia memilih untuk diam dan menanti penjelasan dari Iva dengan jantung yang berdegup sama kencangnya seperti milik Iva.

Iris violet Iva beradu dengan manik zamrud si pria asing. Ingin rasanya ia mencekik pria itu, karena telah menghancurkan rencananya. Tapi Iva tahu pemikiran gilanya hanya akan menjadi angin lalu. Iva mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak ingin terlihat sedang berdusta, karena mungkin Rouvin akan memekik dan memarahinya setelah mendengar kejadian yang sebenarnya.

“Tentu saja, aku akan memberontak. Aku terlalu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang pria asing menggendongku begitu saja,” cicit Iva dengan suara pelan.

Rouvin mengangkat kedua alisnya saat melihat ekspresi gadis bersurai legam yang tampak memerah. “Tunggu … kau tidak mengingatnya?”

Iva membeku. Ia terdiam. Ia baru saja melakukan kesalahan, pria bermanik zamrud yang berdiri dengan riak wajah terkejut di sana ternyata seseorang yang dikenal Titania. Iva selama ini hidup tanpa orang lain di sisinya. Ia hanya menanyakan anggota keluarga Calebron saja sampai melupakan kemungkinan ada orang lain yang dekat dengan Titania.

“Seperti yang kau lihat. Sudah kukatakan bukan?” Rouvin menghela nafasnya kasar. Iva memilih untuk tidak membuka mulut. Ia memperhatikan riak wajah masing-masing pria menawan di hadapannya. Namun otaknya tidak berhenti berputar untuk mencari cara agar tidak ada yang mengetahui bahwa, Titania telah ‘dirasuki’ jiwa yang lain.

“Aku tidak akan mengira ucapanmu tentang Titania kehilangan ingatan itu ternyata bukan sebuah omong kosong,” ucap pria bermanik zamrud yang telah berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana gadis bersurai legam masih duduk terdiam.

“Mana mungkin disaat seperti ini aku akan bergurau? Dan lagi tunjukkan sedikit sopan santunmu, Anak muda. Terlalu cepat 50 tahun bagimu untuk menyebut ucapanku sebagai omong kosong,” sahut Rouvin kesal. Putra sulung keluarga Calebron itu menyingkir dari tempatnya, dan membiarkan pria bermanik zamrud mengambil alihnya.

Iva dapat merasakan tenggorokannya menjadi kering. Iris berwarna telaga itu menatapnya lurus, seperti sedang mencari jawaban atas semua pertanyaan yang mungkin telah membawa pria itu ke dalam labirin. “A-apa maumu?”

“Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya sedang memastikan saja … apakah gadis yang ada di hadapanku ini memang Titania.”

“Tentu saja, aku adalah Titania. Apakah aku terlihat seperti aku bukan Titania? Jika aku memang bukan Titania, kau bisa mencabut rambut hitamku ini dan mencongkel mataku untuk melihat apakah ini palsu atau bukan?” Iva menyibakkan surai legamnya tepat di hadapan wajah tampan si pria bermanik zamrud. Meski ia menantang pria itu dengan raut wajah garang dan tidak peduli, sesungguhnya jantung sang nona muda bagaikan genderang yang bertalu-talu.

“Kau pikir aku iblis atau semacamnya? Mengapa aku harus mencongkel matamu? Rouvin, bahkan setelah gadis ini kehilangan ingatan sifat garangnya itu tidak ikut menghilang.” Kedua alis Iva mengernyit. Ia semakin dibuat bertanya-tanya dengan identitas sosok yang bersikap seolah mengenal dekat Titania.

“Dasar gadis menyebalkan, bagaimana bisa kau melupakan satu-satunya teman masa kecilmu?”

“Teman masa kecilku …?”