ORANG TUA RASA PREMAN
Jika tahu akan menjadi seperti itu kejadiannya, Hanan tidak akan sibuk menatap layar ponselnya sembari berjalan keluar halaman sekolah, sehingga ia bisa menghindarinya sebelum terlambat.
“
Yo ! Hanan!” teriak seorang pemuda.
Hanan, siswa tingkat kedua SMA Pelita Harapan itu mengangkat wajahnya dan menghentikan langkahnya seketika. Ia mendesah kecewa dan menunjukkan wajah masamnya melihat seorang pemuda yang berdiri bersandar mobil mewahnya, melambaikan tangan dan berteriak heboh padanya.
“Menjengkelkan sekali!” keluh Hanan kesal.
Daripada pemuda berkacamata hitam dan berpenampilan necis itu yang mendekatinya dan melakukan gerakan- gerakan yang memalukan, Hanan terpaksa segera menghampirinya dan menendang tulang keringnya dengan jengkel.
“Ah!” pekik pemuda berkacamata hitam itu kesakitan setelah mendapatkan satu tendangan di kakinya, tapi kemudian ia menetralkan kembali ekspresi wajah ramahnya dengan cepat seraya membentangkan kedua tangannya, “Adikku tercinta!”
Hanan kembali menendang tulang keringnya yang satunya lagi, lalu segera masuk ke dalam mobil agar pemuda yang bersikap berlebihan itu segera masuk dan tidak membuatnya semakin malu.
“Cepatlah masuk!” bentak Hanan semakin kesal.
Pemuda itu masuk dan duduk di kursi kemudi, Ia masih sempat membuka kaca jendelanya, melongokkan kepalanya keluar dan melambai- lambaikan tangannya.
“Hai, Aldo! Terima kasih sudah sudah berteman baik dengan adikku selama di sekolah ya!” teriak pemuda itu, sengaja mengeraskan suaranya agar semua anak- anak yang sedang mengantri keluar bisa mendengarnya.
“Jika kau tak segera melajukan mobilnya, aku akan turun dan naik angkutan umum!” bentak Hanan marah.
Pemuda itu meringis, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah Hanan.
“Tidak bisakah kau berhenti membuatku malu?” protes Hanan.
“Malu? Kau tidak lihat jika semua teman- teman perempuanmu melihat ke arahku dengan pandangan takjub? Mereka pasti akan memekik dan memuji betapa tampannya ayahmu ini. Lihatlah wajahku baik- baik, Han. Aku masih muda, luar biasa tampan, dan menjemputmu dengan mobil semewah ini. Di mana letak memalukannya bagimu?” sahut Reiden, pemuda yang kini sibuk mengemudi.
Hanan memelorotkan posisi duduknya, tak bersemangat sama sekali, dan jengkel.
“Pakai sabuk pengamanmu,” tegur Reiden.
Remaja yang ditegurnya tak mengindahkan perintah tersebut. Ia memandang keluar jendela. Reiden menepikan mobilnya dan menghentikannya.
“Ada apa lagi ini?” tanya Hanan kebingungan, khawatir akan ada ulah aneh yang akan dilakukan pemuda yang duduk di sampingnya.
Reiden berhenti hanya untuk memakaikan sabuk pengaman Hanan karena anak itu tidak melakukannya sendiri. Tangannya nyaris menyentuh kening Hanan, tapi segera ditampik oleh Hanan dengan keras dan jengkel.
“Aku hanya mau memastikan apakah badanmu panas atau tidak!” tegur Reiden.
“Apa pedulimu. Cepat antar aku pulang, jangan banyak bicara!” bantah Hanan.
“Tentu saja aku peduli, kau anakku. Kalau kau sakit dan kenapa- kenapa, aku yang akan repot!” bentak Reiden, kali ini ia serius.
Ya, Reiden, pemuda tiga puluh empat tahun yang tampak masih seperti berusia akhir dua puluhan itu adalah ayah Hanan. Ia dan isterinya berusia sebaya dengan Hanan saat ini ketika Hanan lahir. Itulah kenapa di manapun mereka berada, orang- orang akan mengira jika mereka kakak beradik, bukan ayah dan anak.
Reiden mengernyitkan keningnya ketika telapak tangannya yang menyentuh kening anak sulungnya itu merasakan suhu panas. Ia kemudian mematikan AC mobilnya dan meraih sebuah selimut yang tergeletak di kursi belakang, lalu meletakkannya di pangkuan Hanan.
“Pakailah, aku akan mampir ke apotek untuk membeli obat penurun panas untukmu,” kata Reiden seraya melajukan mobilnya lagi.
“Tidak perlu, aku hanya ingin segera istirahat di rumah,” sahut Hanan.
“Kenapa? Aku belum pulang tiga hari ini, dan sepertinya Arin juga sangat sibuk. Sejak kapan kau sakit?” tanya Reiden sambil fokus mengemudi.
“Aku tidak merasa sakit, tapi merasa jengkel,” sahut Hanan.
Reiden tertawa kecil mendengar jawaban anak laki- lakinya, “Ya, kau benar, orang yang suka marah- marah suhu tubuhnya memang meningkat. Kalau begitu turunkan emosimu atau kau bisa saja terkena tekanan darah tinggi di usia belia. Jangan terlalu sering sakit, nanti wajahmu akan terlihat lebih tua dariku.”
“Cih!”
“Kau selalu ketus denganku, Han,” tegur Reiden yang harus menghentikan kembali laju mobilnya di belakang marka jalan saat lampu berubah menjadi merah.
Reiden menoleh ke arah anaknya yang mengalihkan pandangannya darinya. Ditariknya pipi remaja enam belas tahun itu agar ujung bibirnya melebar. Lagi- lagi Hanan menampik tangan ayahnya kesal.
“Tersenyumlah! Menjengkelkan sekali melihat wajahmu yang selalu ketus itu!” protes Reiden yang mencoba kembali mencubit pipi anaknya.
Hanan menoleh ke arahnya dan melemparkan tatapan mata penuh amarahnya, “Biarkan aku turun di sini. Buka kuncinya!”
Reiden tak mengindahkannya. Mereka kembali terdiam setelah mobil boleh berjalan lagi.
“Han, kenapa ujung jarimu di balut plaster luka?” tanya Reiden penasaran.
“Aku melukai tanganku ketika praktik di laboratorium kemarin,” jawab Hanan tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
“Bagaimana dengan lebam di lenganmu?” Reiden terus mencecarnya.
“Lebam?” tanya Hanan tak mengerti, lalu melihat lengan tangannya sendiri dan mendapati ada lebam di sana, “Ah, ini, entahlah, ada begitu saja, tapi tidak sakit.”
“Teman- temanmu tidak merundungmu, kan?” tanya Reiden memastikan.
“Untuk apa mereka merundungku? Mereka tidak punya alasan untuk melakukannya. Apa menurutmu mukaku tampak seperti anak bodoh yang menjadi sasaran empuk perundung?” ujar Hanan dengan ketus.
Reiden tersenyum lebar, “Tentu saja tidak. Kau itu anakku, jadi tentu tidak akan ada yang berani merundungmu. Kau saja yang merundung teman- temanmu. Kau punya banyak hal untuk kau sombongkan. Mama dan papa yang luar biasa cantik, ah tidak, jangan memanggilku papa jika sedang di sekolah. Kau juga punya adik perempuan yang menggemaskan. Kau memiliki semuanya. Kau juga pulang dengan mobil semewah ini. Apa menyenangkan?”
“Apa yang bisa kusombongkan dari orang tua yang punya anak sejak usia tujuh belas, dan mobil milik majikanmu ini? Kau malah membuatku malu,” gerutu Hanan.
“Tapi kan kau jadi bisa naik mobil yang nyaman,” sanggah Reiden.
“Aku lebih baik naik sepeda daripada memamerkan harta milik orang lain seperti ini. Tolong beri aku uang untuk memperbaiki sepedaku yang rusak. Sudah seminggu ini aku harus naik angkot!”
“Aku bisa mengantarmu dengan mobil ini. Majikanku pindah rumah dan lebih dekat dari rumah kita. Mereka juga menyuruhku untuk membawa pulang mobilnya. Kau bisa berangkat sekolah bersamaku sela—” Reiden belum menyelesaikan kalimatnya.
Hanan memotong ucapannya cepat, “Aku mau naik sepeda, dan aku tidak mau dijemput olehmu lagi!”
“Kau itu aneh sekali. Ketika teman- temanmu menginginkan dan memamerkan kendaraan- kendaraan mereka yang mewah, kau malah menolak naik mobil semewah ini. Kau tidak malu jika naik sepeda?” cibir Reiden.
“Satu- satunya hal yang membuatku malu hanyalah kau yang norak dan heboh sekali. Itu saja!” tandas Hanan ketus.
Reiden terkekeh. Ia mencubit pipi anak sulungnya lagi dengan gemas, meski anaknya itu akan bertambah membencinya.
‘
Uhuk, uhuk !’ Hanan mulai terbatuk- batuk dan memukuli dadanya sendiri.
“Minum Han!” kata Reiden seraya meraih botol minuman dan menyodorkannya pada Hanan.
Hanan tak henti- hentinya terbatuk hingga Reiden harus kembali menepikan mobilnya dan berhenti untuk membantu membukakan botol air minumnya. Ia mengecek kembali suhu tubuhnya, bertambah panas.
“Kau sakit, Han!” ujar Reiden khawatir.
“Aku tidak merasa sakit namun perasaanku tidak enak,” ungkap Hanan dengan telapak tangannya yang memegangi dadanya.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Reiden.
Hanan menggelengkan kepalanya, “Entahlah, dadaku sesak.”
“Apa kau kesulitan bernafas?” cecar Reiden.
“Tidak, hanya merasa gugup atau entahlah aku tidak tahu. Tolong antar aku pulang. Aku ingin segera istirahat,” pinta Hanan, wajahnya memucat.
Kali ini Reiden segera melajukan mobilnya dengan cepat agar mereka segera sampai.
“Kak Han!” teriak si kecil Emily seraya berlari seketika melihat Hanan turun dari mobil.
“Anak papa yang cantik!” teriak Reiden yang lebih cepat menangkap Emily sebelum gadis berusia empat tahun itu mencapai kakaknya.
Reiden melambungkan Emily dan membuatnya tertawa bahagia, meski kemudian anak kecil itu merengek ingin mengikuti kakaknya yang sudah masuk ke rumah.
“Rin, tolong urusi Hanan. Ia sakit, badannya panas sekali,” kata Reiden pada isterinya yang masih memegang mangkuk makanan Emily.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, wanita yang sebaya dengan Reiden itu bergegas masuk. Ia nyaris melemparkan mangkuknya di atas meja demi bisa segera memeriksa keadaan anak sulungnya.
“Han, kau sakit?” tanya Sang Ibu, Arin, khawatir.
Hanan menahannya lebih cepat, “Aku hanya butuh istirahat dan tidur. Tolong jangan menggangguku. Tutup pintunya dan jangan masuk lagi!”
Tak mengindahkan larangan anaknya, Arin tetap mendekat untuk menyentuh kening Hanan, tapi kemudian memukul pantatnya.
“Bisa- bisanya kau sakit!” pekik Arin yang kembali memukul pantat Hanan.
“Ibuku tersayang, kenapa kau malah memukuli pantatku! Pergilah, berkencanlah dengan suamimu yang memalukan itu!” teriak Hanan jengkel sekali dengan sikap kedua orang tuanya yang menjengkelkan.
“Aku akan membelikan obat penurun panas di apotek depan. Jangan tidur dahulu sebelum minum obat!” bentak Arin seraya melangkah keluar. Ia masih menggerutu, “Bisa- bisanya anak itu sakit. Padahal biasanya ia paling kebal dengan penyakit apapun.”
Hanan memastikan mamanya keluar dari kamarnya. Ia segera mengunci kamarnya dan segera tidur.