LNCrawler

ORANG TUA RASA DIKTATOR

The Twin Brothers — gooddreamer.id · All chapters

ORANG TUA RASA DIKTATOR

Di sisi lain, di sebuah mansion bergaya modern victorian, seorang anak remaja laki- laki berusia enam belas tahun tengah duduk di kursi malasnya dengan sebuah buku. Ia menjatuhkan tangan yang memegang buku novel kriminal itu ke sisi tubuhnya, dan buku itu jatuh ke lantai. Tidak butuh semenit untuk seseorang memungut buku itu dan menyodorkannya pada anak tersebut.

“Dadaku sakit,” ungkap anak bernama Shane lemah.

Wanita pengurus rumah tangga yang mendengar keluhan itu langsung panik, “Apakah saya harus segera menghubungi dokter?”

Shane tersenyum kecil, “Tidak, tidak perlu.”

“Kalau begitu saya akan memberitahu Pak Owen atau,” tanya Sang Bibi belum menyelesaikan kalimatnya dan langsung dipotong oleh Shane.

“Tidak juga, mereka akan panik dan repot jika kau memberitahu mereka. Lagipula tidak sesakit itu. Aku masih bisa menahannya,” jelas Shane.

Ia lalu turun dari kursinya dan melangkah masuk ke kamarnya. Seorang pria berbadan tinggi besar dan tampak sigap mengekor masuk ke kamar Shane. Shane berdiri di depan sebuah cermin yang besar, mulai membuka kancing kemejanya. Beberapa saat lamanya, ia memandangi dadanya yang telanjang. Ada sebuah luka bekas jahitan tepat di tengah dadanya. Apa yang ada di baliknya, saat ini terasa sesak, tapi ia tak ingin menyuarakan keluhan apapun atau jika ada yang mendengarnya, mereka akan panik.

Shane melepaskan kemejanya. Kemeja itu langsung di tangkap oleh sang bodyguard bernama Evan sebelum menyentuh lantai.Shane menatap pria berusia dua kali usianya itu melalui pantulan cermin di depannya. Ada perasaan yang sulit sekali dideskripsikan oleh Shane mengenai pria berwajah tidak ramah itu, antara terintimidasi dan kecewa untuk alasan yang juga tidak Shane ketahui.

“Dadaku sesak, mungkinkah karena aku merasa tertekan?” tanya Shane lirih.

Evan ragu apakah remaja di depannya itu bicara padanya atau tidak, tapi ia menjawab, “Apa yang membuat anda tertekan?”

“Kau!” sahut Shane dengan cepat.

Shane membuka almari di depannya dan memilih satu dari sekian banyak pilihan pakaian yang serba mahal. Ia segera memakainya.

“Kesalahan apa yang telah saya lakukan hingga membuat anda tertekan?” tanya Evan dengan suaranya yang berat.

Shane menolak menjawab pertanyaan itu. Ia memakai jam tangannya yang bernilai hingga puluhan atau ratusan juta.

“Kau menyukai pekerjaanmu?” tanya Shane. Kini ia merapikan rambutnya.

“Iya,” jawab Evan singkat.

“Karena upah yang tinggi?” tanya Shane menginterogasi.

“Itu adalah salah satunya.” Evan menjawab dengan tegas.

“Dan pekerjaanmu yang cukup mudah, kan?” sindir Shane, “Kau hanya perlu mengekoriku, mengikutiku ke manapun aku melangkah dan memastikan aku baik- baik saja. Lebih beruntungnya lagi bagimu, aku dibentuk menjadi anak yang rapuh sehingga membatasi pergerakanku. Tidak ada banyak yang perlu kulakukan, yang itu artinya kau juga tidak banyak bekerja. Bukankah begitu?”

“Anda tidak menyukai saya, Tuan Muda,” ungkap Evan dengan wajah datarnya.

“Bukan tidak suka, tapi lebih tepatnya tidak nyaman. Kita ini hidup di era yang modern di tahun 2022. Setiap anak memiliki hak hidup dengan beberapa detail khususnya, termasuk kebebasan, tapi hanya aku anak yang hidup seperti jaman  entahlah! Kau pasti akan mengadukanku pada mama dan papaku!” jelas Shane.

Shane sudah bersiap dan rapi, tapi kemudian ia duduk di sebuah kursi dengan tangan kirinya memegangi dadanya. Ia mengatur nafasnya seolah baru saja lari marathon, padahal ia tidak melakukan banyak hal berarti sepanjang hari ini maupun setiap hari sebelum- sebelumnya.

Evan dengan sigap setengah bersimpuh di samping Shane dan menggunakan tangannya untuk menopang dada Sang Tuan Muda itu, lalu tangannya yang lain mendorong punggungnya agar Shane sedikit membungkuk. Evan mengusap- usap punggung Shane dengan tangannya yang besar dan menjadi terasa berat bagi Shane yang kurang menyukainya.

“Apa yang terjadi bila aku mati?” tanya Shane di sela mengatur helaan nafasnya yang berat, “Seluruh rumah ini akan hancur, dan kau adalah yang pertama kali hancur, bukan? Kau yang akan selalu menjadi orang pertama yang di salahkan apabila sesuatu terjadi padaku, baik hal kecil maupun besar. Jika aku tak menyukaimu, aku cukup menjatuhkan diriku saat berjalan dan membuat siku tanganku tergores. Mama akan memecatmu, kan?”

Evan tak menyahut. Keduanya terdiam beberapa saat lamanya.

“Kau punya anak?” tanya Shane.

“Ya, seorang gadis cilik berusia lima tahun,” jawab Evan.

“Apa kau bisa membayangkan jika anak gadismu berada di posisiku apabila ia sudah seusiaku sekarang? Menjadi burung dalam sangkar. Semua pergerakan dibatasi dengan alasan demi kebaikanku. Aku tahu betapa sayangnya mama dan papaku, juga semua orang di rumah ini, tapi semua yang berlebihan tidaklah menyenangkan,” ujar Shane dengan lirih.

Shane menjauhkan tangan Evan yang menopang dadanya, lalu bangkit dan melangkah keluar dari kamarnya yang sangat luas.

“Aku ingin bicara dengan Laras. Tolong sampaikan padanya untuk menemuiku di taman belakang!” perintah Shane.

Shane dan Evan berpencar. Evan harus memanggil Laras, anak perempuan dari salah satu pembantu di mansion Keluarga Owen, sementara Shane sendiri berjalan menuju ke halaman belakang yang luasnya seperti lapangan olahraga di sekolahnya. Ia mendekati sebuah pohon rindang yang tumbuh di sudut halaman, menunggu.

“Kau memanggilku, Shane?” sapa seorang gadis yang beberapa tahun lebih tua dari Shane.

Shane membalikkan tubuhnya untuk melihat gadis yang ingin diajaknya bicara, “Ya, apa kau sedang sibuk?”

Gadis itu menggeleng lemah. Ia menundukkan pandangannya.

“Kau keberatan, Kak Laras,” tebak Shane dengan tepat, “Kau mengumpatku dalam hati, kan?”

Laras terdiam, menjadi jawaban ‘iya’ bagi Shane. Shane marah dalam batinnya, tapi ia justru melemparkan senyum simpulnya pada orang yang sedang diajaknya bicara.

“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanya Shane menunjukkan wajah ramahnya seperti biasa.

“Aku sedang bersiap akan pergi ke kampusku,” jawab Laras lirih.

“Ah, maafkan aku yang tak melihat waktu dan seenaknya memanggilmu. Kalau begitu, kau kau boleh pergi. Kita bisa bicara nanti saja saat kau sudah luang,” kata Shane memutuskan.

“Apa yang akan kau bicarakan denganku?” Laras memastikannya.

“Bukan sesuatu yang penting. Seperti biasa, aku hanya ingin mengeluhkan banyak hal. Tak apa, pergilah!” kata Shane merelakannya pergi.

“Baik, maafkan aku. Aku akan menemuimu nanti,” ujar Laras, lalu melangkah pergi.

Shane tak mau memandangi punggung gadis yang pergi meninggalkannya itu. Ia lebih memilih berbalik dan melihat batang pohon di depannya. Ada sebuah kupu- kupu yang kebetulan hinggap di batang itu. Dengan mudah Shane menangkap sayap kupu- kupu itu. Setelah mengamatinya beberapa saat, ia menarik sayapnya satu- persatu hingga sayap itu terlepas dari tubuh rapuh si kupu- kupu, mati.

Evan yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan, mendekati untuk memastikan keadaannya karena ia khawatir tuan mudanya itu kembali merasa tidak enak badan. Shane menjatuhkan tubuh si kupu- kupu dan menginjaknya dengan ujung sepatunya, tepat sebelum Evan mencapainya.

“Apa anda baik- baik saja?” tanya Evan.

Shane melemparkan senyum simpulnya dan mengangguk, “Lebih baik daripada sebelumnya.”

“Shane!” teriak Bu Owen seraya membentangkan kedua lengannya.

Wanita berusia empat puluh lima tahun itu setengah berlari menuju ke arah anak tunggalnya. Shane tersenyum simpul menyambut Sang Ibu, meski Evan yang meliriknya, yakin sekali anak muda itu tidak menyukai momen- momen yang akan terjadi selanjutnya.

Bu Owen memeluk Sang Anak dan menghujaninya dengan kecupan di permukaan kulit wajah dan rambut lembut Shane. Shane hanya pasrah saja menerima perlakukan ibunya yang selalu berlebihan itu.

“Bibi mengatakan kau tidak enak badan, sayang?” tanya Bu Owen khawatir. Ia memandangi wajah anaknya dari dekat dan mengusap- usap rambut poninya, “Kita harus segera ke rumah sakit, OK?”

“Aku memang mengeluh padanya, tapi hanya untuk membuatnya khawatir. Menyenangkan sekali membuatnya khawatir dan gugup. Aku baik- baik saja, lihatlah!” umum Shane dengan ceria.

Shane membentangkan kedua lengannya, menunjukkan bahwa ia sangat sehat. Bu Owen tesenyum lebar dan kembali memeluk Sang Anak. Ia kemudian menariknya masuk ke dalam rumah.

“Hari ini anginnya cukup kuat, juga mendung,” ungkap Bu Owen ketika mereka dalam perjalanan masuk, “Jangan terlalu lama berada di luar. Kau bisa masuk angin. Anginnya juga tentu membawa banyak debu. Kau mungkin akan menghirup terlalu banyak debu dan itu akan merusak saluran pernafasanmu. Kau juga mempunyai jantung dan paru- paru yang lemah, sayang. Lebih berhati- hatilah.”

Shane hanya perlu tersenyum dan mengiyakan apapun yang dikatakan mamanya. Ia tidak benar- benar merasa jantung maupun paru- parunya bermasalah, tapi sedari kecil, ia terdoktrin oleh nasehat dan ucapan- ucapan serta perlakuan orangtuanya yang menganggapnya rapuh dan sakit- sakitan, sehingga terbentuk dalam alam bawah sadarnya apabila ia memang sakit- sakitan dan tidak seharusnya melakukan banyak pergerakan yang bisa membuatnya lelah.

Ia bahkan menuruti mamanya yang mendorongnya duduk di salah satu sofa menghadap ke arah TV meskipun ia ingin duduk di sofa yang menghadap ke arah tembok kaca halaman dalam rumahnya.

“Oh, bekas gigitan apa ini?” pekik Bu Owen ketika melihat titik merah di punggung tangan Shane yang putih dan lembut, “Evan, tolong ambilkan salep!”

Shane hanya diam saja ketika orang- orang di sekitarnya heboh dan panik sekali mengurusinya hanya karena sebuah bekas gigitan serangga kecil yang sebenarnya tidak seberapa.

“Kenapa aku tidak merasa benar- benar hidup?” batin Shane seraya menatap ubun- ubun kepala mamanya yang sibuk menunduk mengolesi punggung tangannya.