LNCrawler

EMOSI KUAT ANAK YANG RAPUH

The Twin Brothers — gooddreamer.id · All chapters

EMOSI KUAT ANAK YANG RAPUH

Shane bersemangat sekali setiap akan berangkat ke sekolah. Itu adalah satu- satunya kesempatannya melihat dunia luar dan berkumpul dengan teman- teman sebayanya, meski tentu ada beberapa  anak yang di dibiayai dan di sekolahkan di tempat yang sama dengan Shane untuk mengawasi dan melindunginya. Tidak tanggung- tanggung. Pak Owen membayar tiga orang siswa sebaya Shane yang juga duduk di tingkat terakhir, untuk menjaganya ketika berada di sekolah.

Shane adalah anak tunggal keluarga Owen, di mana suami isteri Owen itu adalah pasangan orang tua yang sangat posesif dan obsesif terhadap Shane. Shane lahir dan tumbuh dengan mata posesif kedua orang tuanya selalu mengawasinya. Semua pergerakannya akan diatur dan tidak boleh ada yang luput. Tidak ada yang boleh memiliki Shane selain mereka, dan beruntungnya mereka mempunyai uang yang berlebihan untuk melakukan semua hal tersebut.

Pak Owen adalah seorang pebisnis yang bisa dikatakan luar biasa sukses dan kaya raya. Kekayaannya mungkin cukup untuk menghidupi warga satu RW dengan fasilitas yang mewah. Berlebihan, tapi memang demikian adanya. Ia dan isterinya sukses, cerdas dan sangat teliti dan penuh perhitungan. Mereka tidak mentorerir kesalahan sekecil apapun, dan itulah juga yang membuat mereka tampak sempurna dan tak terkalahkan.

Mengenai tempat di mana Shane sekolah, lebih mengejutkannya adalah sebuah sekolah yang terlalu biasa untuk anak sepertinya. Pak Owen tidak menyekolahkan Shane di sekolah khusus anak keluarga- keluarga kaya raya dan terkenal, sengaja justru agar tidak ada yang mengenali anaknya. Ia menyuruh Evan mengantarnya sampai di pertigaan jalan sekolah, sebelum tiga orang siswa bayaran menjemputnya dan mengantarnya dengan sepeda ke sekolah.

Shane masuk dan membaur di sekolahnya sebagai siswa biasa. Pak Owen sudah mewanti- wanti Shane untuk sama sekali tidak pernah bersikap menonjol. Ia ingin Shane bersikap biasa saja, atau jika perlu menjadi siswa hantu yang tak terlihat bagi siapapun. Itu dilakukan Pak Owen agar tidak ada yang mengenalinya dan mengganggu atau memanfaatkannya. Ia sejeli dan se- over- protective itu.

Mengenai kualitas pendidikannya, sekolah itu bukanlah yang utama. Pak Owen hanya ingin Shane melihat keadaan sosial di sekolah itu, sementara pendidikannya akan lebih diutamakan melalui bimbingan belajar secara prifat di rumah sepulang sekolah.

“Kau ingat kan, Shane, kau tidak perlu mengikuti pelajaran olahraga nanti. Kau hanya perlu duduk di tepi lapangan dan memperhatikan teman- temanmu saja. Jangan juga bermain sepak bola. Itu melelahkan sekali. Jantungmu tidak akan baik- baik saja dan kau mungkin akan terjatuh dan melukai tubuhmu jika melakukannya. Kau juga,” nasehat Bu Owen terpotong.

Shane memotong nasehat beruntun mamanya dengan cepat, “Apa aku pernah melanggarnya? Aku juga tidak mau kelelahan karena berlari- lari, Ma, jangan khawatir.”

Pak Owen menepuk bahu Sang Anak dan menambahkan nasehat isterinya, “Dan jangan makan sembarang jajan di kantin. Papa tidak mau mau sakit perut seperti tempo hari.”

Shane mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia membuka kaca jendela dan melambaikan tangannya pada orangtuanya yang masih memandang kepergiannya. Setelah mereka tidak tampak lagi, Shane menutup jendelanya dan berdecak kesal.

“Jangan melirikku seperti itu, Evan, kau menggangguku,” tegur Shane yang menyadari jika Evan yang sedang mengemudi sesekali meliriknya melalui kaca spion.

“Maaf.” Evan menyahut dengan hormat.

“Aku sakit karena semua orang memperlakukanku sebagai anak yang sakit,” ujar Shane yang menginginkan Evan mendengarnya, “Aku tidak bisa melakukan pekerjaan apapun, bahkan aku tidak tahu bagaimana caranya menendang bola dengan baik karena aku tidak pernah diijinkan untuk mencobanya. Kenapa? Karena mereka takut aku mematahkan kakiku saat menendang bola, melukai tanganku ketika aku bermain sesuatu dengan teman- temanku, dan mati tersedak apabila aku bercanda dengan semua orang.

Dengan semua perhatian itu, apakah hidupku tampak sempurna dan bahagia sekali bagi orang lain? Apa kau melihatku sebagai anak yang bahagia, Evan?”

“Anda harus mensyukurinya,” sahut Evan tanpa kehilangan fokusnya mengemudi, “Jika anda tahu, ada banyak sekali anak- anak yang kehilangan orang tua, atau memiliki orang tua lengkap namun mendapatkan kekerasan. Banyak di luar sana yang diperlakukan dengan tidak baik dan tidak disayang oleh orangtuanya. Jika anda sekali saja menjadi salah satunya, anda akan bersyukur sekali menjadi anda yang sekarang.”

“Apa menurutmu orang tuaku memperlakukanku dengan baik?” sanggah Shane.

“Mereka melakukan yang terbaik untuk anda, menyayangi anda sepenuh hati mereka. Semua kebutuhan anda tercukupi dan anda tidak kekurangan apapun. Sandang, pangan, papan, baik kebutuhan pokok, sekunder dan tersier anda terpenuhi secara berlimpah. Apa lagi yang tidak bisa anda syukuri?” lontar Evan.

“Yang tidak bisa kusyukuri?” Shane mengulangi pertanyaan Evan, “Adalah situasi dan posisiku yang tidak bisa mengeluhkan apapun yang sudah tampak sempurna ini. Apakah aku bahagia atau sedih? Aku bahkan tidak tahu, tapi aku merasa tidak nyaman dan sangat terbebani. Kau tidak akan mengerti situasiku karena kau bukan aku!”

Kedua orang dalam mobil mewah itu terdiam. Shane yang duduk di kabin belakang memandang ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan yang dipenuhi oleh anak- anak yang berangkat ke sekolah.

“Bahkan jika aku gila, benar- benar gila, mereka akan membuatku kembali sembuh dan merasakan hal semacam ini lagi, kan?” tanya Shane seperti sebuah pertanyaan retorik.

“Anda terlalu banyak mengeluhkan orang tua anda, Tuan Muda,” ungkap Evan.

“Dan kau akan mengadukan hal itu pada mereka?” sindir Shane.

Evan terdiam beberapa saat lamanya, lalu menjawab, “Tidak.”

“Turunkan aku di sini saja!” pinta Shane tiba- tiba.

“Ini masih jauh dari sekolah anda, lagipula Edwin dan teman- temannya menunggu anda di depan sana,” sanggah Evan.

Shane menyeringai, “Kau juga terlalu mengaturku, Evan! Semua orang mencekikku dan menjadikanku boneka yang penurut, ya? Apa artinya jika aku marah? Aku tidak boleh marah saat aku marah, tapi semua hal membuatku marah.”

Evan lebih takut pada pasangan Owen daripada dengan anak mereka, jadi ia tetap tidak menuruti keinginan tuan mudanya. Ia baru menghentikan mobilnya di pertigaan gang yang sepi di antara perumahan menuju ke sekolah Shane. Di sana, sudah menunggu sebuah mobil yang usang yang di dalamnya sudah ada tiga anak berseragam SMA yang akan mendapatkan tongkat estafet menjagaan Shane dari Evan.

*

“Awas Shane!” seru sebuah suara dari kejauhan.

Seseorang berteriak, tapi terlambat karena bola yang ditendangnya secara tidak sengaja menghantam tepat di dada Shane hingga anak yang duduk di tepi lapangan olahraga itu jatuh terjerembab. Sontak anak- anak di sekitarnya membantunya duduk kembali.

“Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja!” ujar salah seorang anak yang merasa telah menendang bola tadi.

Shane tersenyum simpul, “Tidak apa- apa, aku baik- baik saja. Ah, bajuku kotor. Aku akan menggantinya di kamar mandi.”

“Mari kuantar,” kata Si Penendang Bola menawarkan bantuan.

“Tidak perlu, kalian lanjutkan saja bermainnya. Aku sungguh tidak apa- apa.” Shane menolak.

Shane beranjak dan segera pergi ke toilet. Ia menunggu seorang siswa keluar dari ruang kamar mandi sebelum kemudian ia masuk dan mengunci pintunya. Ia jatuh melorot dan duduk bersandar pintu, memegangi dadanya yang luar biasa sakit.

Ia menjalani operasi bedah terbuka beberapa tahun lalu, tapi rasanya seperti tidak ada apapun yang diperbaiki dari operasi tersebut. Meski bekas operasinya sudah kering dan sembuh sejak lama, tapi pukulan bola sepak itu membuatnya sekarat. Kenapa ia tak jujur saja jika ia kesakitan? Karena Shane tidak ingin tampak terlalu lemah bagi teman- temannya.

“Shane, buka pintunya!” pinta Edwin disertai ketukan pintu lirih.

“Sebentar saja, Ed. Biarkan aku sendiri,” sahut Shane yang tak bergeming dari tempatnya.

“Aku akan menolongmu. Dadamu sakit, kan?” tanya Edwin khawatir.

“Aku baik- baik saja,” jawab Shane.

Shane menjatuhkan punggungnya di atas lantai toilet yang dingin dan kotor. Dipandanginya atap ruangan lembab itu, lalu tertawa- tawa sendiri meski tawanya semakin membuat dadanya nyeri.

“Tidur di atas lantai toilet yang kotor? Kapan lagi aku bisa melakukannya jika bukan di sini dan dalam situasi ini? Tidak ada orang yang membiarkanku melakukan apapun yang kumau selama mereka ada di sekitar dan melihatku, jadi apakah aku harus menghilang dari pandangan mereka agar aku bisa bebas dan melakukan semuanya sesukaku?” gumam Shane pada udara lembab di atasnya. Ia kembali terkekeh.

“Shane, aku membawakan obatmu,” kata sebuah suara perempuan.

Shane tak menyahut. Ia tengah menikmati situasinya saat ini, melakukan hal yang tidak mungkin boleh di lakukannya apabila ia di rumah. Tidur di lantai tampaknya menjadi keinginan aneh yang hanya dinikmati oleh Shane.

“Shane, apa kau pingsan?” tanya Edwin khawatir.

“Tidak bisakah kalian berhenti bicara?” sindir Shane, “Berisik sekali, aku sedang mencoba menenangkan diriku. Tolong beri aku sepuluh menit lagi!”

Edwin benar- benar serius menengok jam tangannya, “Baik, sepuluh menit saja dan segeralah bukakan pintunya.”

“Berhentilah mengeluh, Edwin!” bentak Shane kesal.

“Baik.” Edwin menjawab lirih.