HATI LEMBUT ANAK PEMARAH
Di kota yang berbeda dengan mansion Keluarga Owen berada, di sebuah rumah kecil yang sederhana, Hanan dan keluarganya tengah sibuk menikmati makan malam mereka. Si kecil Mily terus merengek disuapi oleh Sang kakak, sementara orang tuanya sibuk sendiri memakan hidangan mereka seperti orang yang sudah lama sekali tidak merasakan cita rasa makanan.
“Aku mau minum susu cokelat!” teriak Mily di sela mengunyah makanan yang disuapi oleh Hanan.
Kaki Hanan menendang tulang kering mamanya di bawah meja, membuat wanita tiga puluh empat tahun itu nyaris tersedak makanannya.
“Apa yang kau lakukan, Han!” bentak Arin, “Kenapa kau menendang kakiku saat aku sedang makan?”
“Kau tidak dengar, anakmu minta di buatkan susu cokelat!” sahut Hanan jengkel.
“Memangnya kau tak bisa membuatkannya? Aku sedang makan. Astaga, ini enak sekali. Bukankah aku memasaknya dengan bumbu yang sangat pas, sayang?” Arin malah mengalihkannya dengan terus menikmati masakannya sendiri.
Sang suami yang duduk di sampingnya itu mengangguk, tapi terlalu sibuk makan sehingga ia tidak menjawabnya.
Hanan memandangi kedua orang tuanya dengan mata yang nanar. Keduanya adalah sumber dari suasana hatinya yang selalu buruk selama dua puluh empat jam setiap harinya. Ia terpaksa bangkit dari kursinya dan membuatkan adiknya segelas susu cokelat kesukaannya.
“Di mana gulanya?” seru Hanan yang mendapati kotak gulanya kosong.
“Di kotak biasa!” sahut Arin.
“Kosong!” teriak Hanan setelah mendapati kotak gulanya kosong.
“Ambillah yang baru di laci nomor dua dari kanan!” jawab Arin.
Hanan mendapatkan gula di laci yang disebutkan mamanya. Ia menaruh takaran susu dan sedikit sekali gula ke dalam gelas adiknya dengan pas. Jika dihitung, mungkin Mily lebih sering minum susu buatan kakaknya daripada buatan mamanya yang terus saja sibuk berpacaran dengan papanya.
“Mily akan tidur di kamarmu malam ini,” kata Reiden, Sang Kepala Keluarga, memutuskan.
“Tidak mau! Dia suka mengompol!” bantah Hanan.
“Tidak maukah kau mengerti keinginan papa dan mamamu ini, anakku?” rayu Reiden dengan licik.
Hanan mendengkus kesal, “Kalian kan bukan papa dan mamaku? Kau berkoar- koar di depan semua orang jika kau kakakku. Itu artinya Mily juga adikmu. Kasur kalian lebih luas daripada kasurku, jadi ia akan tidur bersama kakak sulungnya saja, kau, titik!”
Gadis cilik yang sedang menjadi bahan saling membuang itu tidak mempedulikan kakak dan papanya. Ia menikmati susu buatan kakaknya yang menurutnya adalah yang terbaik.
“Semalam ini saja, Hanan. Aku ingin tidur berdua dengan isteriku tercinta. Ah, tolong pahami perasaanku,” desak Reiden.
“Kalian akan terus membuat anak dan aku yang harus mengurusi anak- anak kalian?” keluh Hanan pasrah, “Jika kau punya uang sedikit lebih banyak, tolong renovasi gudang belakang untuk menjadi kamarku dan Mily bisa menggunakan kamarku menjadi kamar pribadinya.”
Reiden tersenyum lebar, “Oh, anakku, kau memang yang terbaik! Selesaikan makanmu dan istirahatlah segera.”
“Istirahat apanya jika aku harus mengurusi Mily!” gerutu Hanan.
Hanan melanjutkan makanannya sambil sesekali masih menyuapi sang adik.
*
“Sayang, aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi kuharap kau tidak marah,” ungkap Arin.
Sepasang suami isteri yang masih muda itu duduk bersandar di sandaran kasur mereka dengan saling berpelukan hangat.
“Bagaimana aku tidak marah jika semisal kau mengatakan jika kau menyukai pria lain,” canda Reiden.
Arin tertawa kecil. Ia mendesakkan kepalanya di persinggungan leher sang suami, “Ah, bahkan jika aku mati, aku ingin terlahir kembali menjadi isterimu, sayang.”
Reiden mengecup ubun- ubun isterinya, “Apa yang ingin kau katakan tadi, Rin?”
“Aku mengatakannya karena kita sudah terlambat,” ungkap Arin, “Kemarin aku tidak sengaja menemukan sebuah surat di meja belajar Hanan. Surat persetujuan orangtua untuk study tour selama seminggu ke Bali. Ia tidak menyampaikannya pada kita, padahal study tournya sudah selesai. Ia tidak mengikutinya.”
Reiden melepaskan pelukannya dan menatap sang isteri dengan kening yang berkerut, “Lalu selama seminggu itu ia pergi ke mana jika ijinnya ke sekolah saat teman- temannya study tour?”
“Kemarin aku tidak sengaja mendengar petugas perpustakaan sekolahnya yang sedang membicarakannya saat mereka makan. Selama seminggu Hanan tetap pergi ke sekolah dan menghabiskan seminggunya di perpustakaan, mengerjakan tugas pengganti bagi yang tidak mengikuti study tour. Ah, kenapa aku ingin menangis?” kata Arin mengisahkan.
Arin menitikkan air matanya. Ia menarik selembar tissue dan menyeka air yang jatuh ke pipinya.
“Kau sudah menanyakan hal itu padanya?” tanya Reiden.
Arin menggeleng, “Jika ia tidak mau mengatakannya, mungkin ia memang tidak ingin kita tahu. Mungkin alasannya karena biayanya cukup mahal. Selain biaya itu, ia kan juga perlu uang saku selama di sana. Ia mungin memikirkan hal itu dan tidak ingin membebani kita.”
“Tapi aku tidak semiskin itu hingga tidak bisa membiayai kebutuhan sekolahnya, Rin. Ia seharusnya memberikan surat itu padaku. Kenapa aku tidak pernah tahu apapun tentangnya? Jangan- jangan ada banyak hal yang disembunyikannya dariku. Aku harus menanyainya!” kata Reiden bertekad.
Reiden menyibakkan selimutnya dan turun dari kasurnya. Arin menahan pergelangan tangannya dengan khawatir.
“Kau tidak akan memarahinya, kan?” tanya Arin khawatir, “Kau tidak boleh memarahinya. Ia sudah berusaha mengorbankan banyak hal untuk menjaga perasaan kita, jadi tolong jangan menegurnya. Tanyakan baik- baik, oke?”
Reiden menganggukkan kepalanya, lalu bergegas menuju ke kamar anak sulungnya.
“Han, aku masuk!” kata Reiden yang sudah membuka pintu kamar Hanan dan langsung masuk.
Mily sudah tidur nyenyak menguasai kasur sempit Hanan, sementara ia masih berkutat dengan buku- bukunya. Reiden menarik sebuah kursi dan duduk di samping meja sang anak, mengamatinya yang sedang fokus sekali menulis.
“Kau yakin gurumu bisa membaca tulisan cakar ayammu itu?” sindir Reiden yang melihat betapa buruknya tulisan Hanan.
“Aku sedang belajar, jadi tolong jangan menggangguku,” sahut Hanan tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar bukunya.
“Hanan, kenapa kau tak memberikan surat tentang study tour- mu padaku? Bukan hal yang sulit bagiku untuk tanda tangan dan melunasi biayanya. Aku juga bisa memberimu uang saku yang cukup. Apa yang kau khawatirkan sampai kau tak memberitahuku apapun tentang hal itu?” tanya Reiden dengan hati- hati.
“Itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Kenapa kau membahasnya?” tanya Hanan seraya meletakkan bolpoinnya dan menatap mata ayahnya.
“Aku hanya ingin tahu kenapa kau tidak memberikan surat itu padaku,” ungkap Reiden.
“Karena aku tidak tertarik ikut study tour.” Hanan menjawab dengan singkat.
“Kenapa?” tanya Reiden.
Hanan tidak menjawab. Ia hendak mengalihkannya dengan mengambil sebuah buku, tapi Reiden merebut buku itu dan menarik dagu sang anak agar menatapnya.
“Kenapa?” Reiden mengulangi pertanyaannya.
“Aku tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuk sesuatu yang tidak aku nikmati. Jangan membahasnya lagi, aku ingin belajar. Kau menggangguku, keluarlah!” bentak Hanan jengkel karena waktu belajarnya terganggu.
“Apa kau pikir aku tidak bisa membiayai kebutuhan sekolahmu?” tegur Reiden.
“Kalian tidak memiliki pekerjaan yang bagus untuk—“ kalimat Hanan terpotong.
Reiden membantahnya sebelum Hanan menyelesaikan kalimatnya, “Bukan berarti aku tidak bisa membiayaimu, Han. Aku dan mamamu bekerja untuk siapa jika bukan untuk kebutuhanmu dan adikmu. Apa saja yang kau sembunyikan dariku? Aku harus tahu apapun karena aku orang tuamu. Jika bukan padaku, pada siapa kau akan meminta? Kau bisa mengurusi dirimu sendiri?”
“Kenapa kau memarahiku?” protes Hanan.
“Aku sedang menasehatimu, bukan memarahimu,” bantah Reiden.
Ayah dan anak itu saling menatap. Meski tanpa mengatakan apapun, keduanya mendadak sama- sama terhanyut dalam kenangan masa lalu mereka saat keadaan ekonomi keluarga mereka sedang sangat terpuruk. Hanan bisa mengingat setiap detail saat ayahnya itu menggendongnya sembari bekerja menjadi seorang cleaning service saat ia masih kecil, lalu pulang dan masih membagi- bagikan brosur untuk menambah penghasilannya.
Sementara Reiden merasa bersalah karena anak sulungnya itu harus ikut merasakan sulitnya bertahan hidup dan ia yang tak mampu memberikan banyak hal yang Hanan butuhkan. Anak itu tidak banyak meminta. Ia selalu menurut dan menerima semuanya tanpa banyak mengeluh.
Reiden meraih tangan tangannya yang berada di atas meja belajarnya, “Han, maafkan aku.”
Hanan menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Aku akan memberitahumu jika ada surat lagi. Maafkan aku, aku salah. Sekarang, tolong biarkan aku menyelesaikan PR- ku.”
“Aku tidak memiliki pekerjaan yang bagus seperti orang tua teman- temanmu, namun aku dan mamamu bisa menghasilkan cukup uang untuk kebutuhan kita. Selain biaya sekolahmu, kami juga sedikit- sedikit bisa menabung, jadi jangan khawatirkan tentang biaya. Kami yang akan memikirkannya. Yang perlu kau pikirkan adalah fokus belajar. Kau mengerti?” nasehat Reiden.
Hanan tidak menjawab. Ia mengambil bolpoinnya dan kembali menulis.
“Han, kau belum menjawabku,” tegur Reiden.
“Ya, aku mengerti! Pergilah!” jawab Hanan ketus seperti biasanya.
Reiden malah menyangga kepalanya dengan siku yang diletakkannya di atas meja belajar Hanan, memandangi anak sulungnya yang menulis dengan wajah masam.
“Reiden—“ panggil Hanan.
“Aku ayahmu, anak nakal!” tegur Reiden secepat kilat.
“Pa, dan bisakah kau sekali saja mengabulkan permintaanku?” pinta Hanan memohon.
“Apa itu?” tanya Reiden antusias.
“Berhentilah membuatku jengkel. Aku tidak bisa fokus mengerjakan PR- ku jika kau mengganggu. Toh kau tidak membantuku sama sekali. Pergilah ke kamarmu dan buatlah anak sebanyak- banyaknya!” bentak Hanan.
Reiden bangkit dari tempat duduknya dan memukul kepala anaknya dengan gemas, “Sebanyak apapun, yang bisa berhasil tetap hanya satu saja, bodoh!”