LNCrawler

MANIPULATIF

The Twin Brothers — gooddreamer.id · All chapters

MANIPULATIF

Shane tak bisa menahan tawa bahagianya ketika mendapatkan surat pemberitahuan tentang study tour sekolahnya yang akan dilaksanakan dalam waktu seminggu. Seminggu adalah waktu yang cukup, dan bahkan sangat cukup bagi Shane untuk keluar dari lingkungan rumahnya yang terasa sangat mengintimidasinya dengan berbagai macam peraturan dan larangan yang tidak boleh di langgarnya.

“Kau sebahagia itu, Shane?” tanya seorang teman yang duduk di samping bangku Shane.

Shane dengan bersemangat menganggukkan kepalanya, “Ya, aku senang sekali. Study tour itu artinya kita akan pergi liburan ke luar kota selama berhari- hari, kan?”

“Kau lihat rincian biayanya?” tanya temannya itu.

Shane tak mempedulikan nominal yang tertulis di surat persetujuan itu. Angkanya masih tidak seberapa dibandingnya dengan jumlah uang yang dikeluarkannya untuk membeli sehelai bajunya.

“Kurasa orang tuaku tidak akan memberikan tanda tangan dan tidak mau membiayainya,” keluh seorang teman lagi yang duduk di depan Shane.

Shane menepuk bahunya setelah mendengar keluhannya itu, “Apa kita tidak bisa pergi tanpa tanda tangan orang tua?”

“Tentu saja tidak!” sahut Si Teman, “Orang tua yang akan membiayainya. Tanda tangannya adalah bukti mereka mengijinkan dan mau membiayai jumlah yang harus dibayarkan.”

‘Ah dia benar!’ batin Shane menyesali kebahagiaannya yang berlebihan tanpa memikirkan hal tersebut.

Ia tentu bisa membayar biayanya, namun belum tentu orang tuanya akan mengijinkannya pergi. Seminggu tanpa Shane, bagi Keluarga Owen sama saja seperti sewindu tanpa nyawa. Saat kecil, Shane pernah tersesat dan menghilang selama sehari saja, kedua orang tuanya sudah linglung dengan mengerahkan semua orang bayaran untuk mencari keberadaannya.

Shane memegang surat itu selama perjalanan pulang, melihat dan membacanya berulang kali. Ia bersemangat, namun kemudian kecewa dan pesimis secara bergantian.

“Evan, aku ingin ke toserba dahulu,” umum Shane.

“Untuk?” tanya Evan.

Shane tidak menyukai pertanyaannya, tapi ia tetap menjawab, “Ada yang ingin kubeli. Air minum dan beberapa yang lainnya.”

“Air minum? Anda hampir sampai di rumah. Anda bisa minum di—“ sanggahan Evan terpotong.

“Evan!” bentak Shane marah, “Apa kau tuanku? Kenapa kau terus mengaturku? Kenapa semua orang mengaturku hingga aku tak miliki kesempatan untuk melakukan apa yang menjadi keinginanku sendiri? Hanya masalah air minum saja kau berani membantahku?

“Maaf,” ucap Evan mengalah.

Evan membelokkan mobilnya di halaman sebuah toserba. Ia membiarkan remaja yang masih memakai seragam sekolahnya itu keluar dan bergegas masuk ke toko. Ia sendiri menunggu di dalam mobil.

“Astaga, kau tahu anakku Yohan, kan?” ujar seorang wanita satu dengan temannya.

Shane sedang memilih jajanan yang ingin dibelinya dan mau tidak mau mendengarkan obrolan para ibu yang lebih sibuk menggosipkan anak mereka sendiri ketimbang memilih barang belanjaan.

“Dia sudah mulai ketahuan merokok, membolos sekolah, dan emosinya sangat besar akhir- akhir ini,” ungkap seorang ibu, “Aku bertanya baik- baik, ia menjawabnya dengan ketus, membentak. Aku menasehatinya sekalimat, ia membantahnya dengan serentetan kalimat yang tiada habisnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.”

Ibu yang lain menimpali, “Yohan SMA, kan? Kurasa wajar jika ia bersikap demikian. Maksudku, anak seusianya memang sedang dalam masa memberontak, mudah marah, sensitif, dan tidak mau dinasehati. Jika dinasehati, mereka akan merasa jika mereka selalu disalahkan.”

Shane mendapati dirinya menginginkan mendengar pembicaraan itu sedikit lebih lama dengan memilih- milih makanan kemasan di depannya.

“Anakku juga begitu, Mbak!” umum salah seorang yang lain.

“Dan kalian bisa menerimanya?” tanya Ibunya Yohan.

“Kurasa para orang tua yang memiliki anak seusia Yohan sudah mengerti jika anak- anak sepertinya akan melewati masa- masa memberontak itu. Bukan menerimanya begitu saja, tapi aku lebih ingin anakku melewati masa itu dengan terus membimbingnya, bukan dengan memaksakan atau memarahinya. Jika di marahi, mereka justru akan semakin memberontak,” jelas ibu yang lain.

Ibu yang lainnya lagi menambahkan, “Itulah mengapa banyak anak SMA yang jadi nakal. Itu semua tergantung bagaimana orang tua mengarahkan mereka dengan baik, jangan menekan. Walaupun mereka sedang kasar- kasarnya, mereka harus disikapi dengan lembut.”

Shane mengakhiri memilih makanannya, lalu segera membawa semua belanjanya ke  meja kasir dan membayar tagihannya. Alih- alih membawa belanjaannya masuk ke mobil, Shane membawanya ke meja yang di sediakan di teras toserba. Menikmatinya dengan duduk membelakangi arah Evan.

“Masa memberontak ya?” gumam Shane pada roti yang tengah digigitnya, “Jadi orang tuaku pasti juga sudah mengerti jika aku sedang dalam masa memberontak? Jika dipikir- pikir, aku memang tidak pernah membantah apapun yang dikatakan mama dan papa, tapi akhir- akhir ini aku ingin sekali membantah dan melakukan banyak larangannya, entah mengapa. Mungkin itu hormon memberontakku. Iyakah?”

Roti rasa susu yang digigit Shane tentu tidak menimpali gumamannya. Terbersit keinginan Shane untuk memberontak dan merajuk apabila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, atau apabila orang tuanya melarangnya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Senyum culasnya menghiasi wajah lembut remaja yang mendapatkan perawatan kulit terbaik itu.

Tidak berselang lama setelah mendapatkan ide itu, senyumnya mendadak hilang ketika teringat dengan apa yang pernah dilakukan orang tuanya apabila ia melakukan kesalahan. Pasangan Owen itu memang sangat protective dan sayang sekali dengan anak tunggalnya, tapi tidak membantah apabila mereka juga tidak segan- segan menghukum anaknya dengan sesuatu yang traumatis untuk menimbulkan efek jera hanya dengan sekali hukuman. Tentu hukumannya sangat mengerikan.

Pak Owen yang mengetahui Shane yang mempunyai banyak phobia, akan menghukumnya dengan menunjukkan apa yang membuatnya phobia itu sebagai hukuman. Mereka menjaga anaknya dari setiap goresan kecil, tapi juga tidak segan- segan menghukumnya dengan kekerasan fisik demi Shane tidak mengulanginya lagi untuk kedua kalinya. Ya, Keluarga Owen semengerikan itu.

Shane menggeleng- gelengkan kepalanya, membayangkan hukuman yang akan diterimanya apabila misi pemberontakannya tidak mempan.

“Kak, beri aku sedikit uang,” pinta seorang pengemis kecil. Kemunculannya yang tiba- tiba membuat Shane kaget dan tersedak.

Beberapa saat lamanya ia menguasai dirinya kembali dari sedakannya. Diamatinya pengemis cilik itu. Ia gadis berusia sekitar tujuh tahunan dengan rambut yang nyaris gimbal karena terlalu kotor. Pakaian yang dikenakannya- pun kotor dan compang- camping.

“Duduklah dan makan  roti ini,” kata Shane seraya menyodorkan sebungkus  roti pada Si Pengemis.

Gadis itu duduk dan langsung memakan roti yang didapatkannya. Shane juga memberinya sekaleng minuman kemasan.

“Kau memang sengaja berpenampilan seperti itu atau memang seperti itulah penampilanmu?” tanya Shane memastikan.

Gadis itu menghentikan kunyahannya dan menatap Shane dengan tatapan kebingungan. Ia tak bisa mencerna pertanyaan sindiran Shane.

“Eh?” tanya Sang Gadis.

“Apa ada yang memaksamu berpakaian seperti itu untuk meminta- minta?” tanya Shane menyederhanakan pertanyaannya.

Si Gadis Pengemis menggelengkan kepalanya, “Siapa yang menyuruhku? Aku hanya tinggal dengan ibuku dan ia juga meminta- minta.”

“Apa kalian mendapat banyak uang dari meminta- minta?” tanya Shane penasaran.

“Kami meminta sedikit untuk membeli makan. Jika sudah menemukan makanan, kami tidak perlu meminta,” jelas Si Pengemis dengan polosnya.

“Bagaimana kau mendapatkan makanan?” Shane menginterogasinya.

“Banyak orang menyisakan makanan dan membuangnya. Makanan di tempat sampah restoran di sana, enak- enak. Aku bisa makan nila bakar, enak sekali. Aku akan menyisakan separuh roti ini untuk ibuku. Ini enak, rasa susu!” jelas Si Pengemis.

Shane mengemasi makanannya ke dalam plastik, “Bawa semuanya dan makanlah bersama ibumu.”

“Benarkah?” pekik Si Gadis kecil bergembira, “Ah, aku hanya butuh separuhnya saja, jangan semuanya, atau kakak bisa memakannya dulu. Aku akan membawa sisanya.”

“Kenapa? Kau bisa membawanya semua!” perintah Shane.

“Rumahku cukup jauh dari sini. Jika aku membawa bungkusan sebanyak ini dengan banyak makanan mahal  utuh di dalamnya, aku takut,” jelas Si Gadis.

“Kenapa? Apa yang membuatmu takut?” tanya Shane.

“Jika tidak dituduh mencuri, maka akan selalu ada orang yang lebih besar merebutnya dariku. Mereka tidak hanya merebut makananku, tapi juga memukulku. Aku takut,” jelas Si Gadis dengan matanya yang berubah sendu.

Pikiran polos Shane muncul, “Kalau begitu ambillah kantong plastik yang kusut di tempat sampah dan pindahkan makanan ini ke dalamnya. Orang- orang akan mengira kau membawa sampah, kan?”

Gadis cilik itu tersenyum lebar, memamerkan serentetan giginya yang kotor dan rusak, “Kakak benar!”

Shane mulai disibukkan dengan misi itu. Evan hanya mengawasinya dari dalam mobil. Si pengemis mengambil sebuah kantong plastik di tempat sampah dan Shane membantunya menuangkan isi makanan dari plastik toserba ke pastik sampah itu. Keduanya tersenyum bahagia. Evan mendapati dirinya tersenyum melihat interaksi keduanya.

Penilaian terhadap tuan mudanya itu berubah- ubah. Evan sendiri sudah bekerja menjadi bodyguard Shane sejak tiga tahun yang lalu. Baginya, Shane tidak bisa ditebak. Sikapnya mencurigakan, antara terlalu lugu karena ruang geraknya dibatasi, atau justru cukup manipulatif. Ia tak bisa mengatakan Shane adalah seorang anak yang angkuh dan merepotkan, karena seringkali ia mendapati Shane menjadi cukup baik dan lembut.

“Ia pasti akan mengingat anda sebagai orang yang baik,” puji Evan ketika Shane sudah kembali masuk ke mobil.

“Aku tak peduli penilaiannya padaku. Aku tak memerlukannya,” jawab Shane dengan angkuh dan dingin.

Evan memincingkan matanya, memiringkan kepalanya sedikit, terheran dengan sikap Shane yang sudah berubah lagi. Ia benar- benar tidak mengerti.