LNCrawler

Patah

Unforgettable Love — gooddreamer.id · All chapters

Patah

“Aku pernah memberikanmu rasa yang begitu tulus. Namun, ternyata kau justru membalasku dengan rasa trauma yang begitu serius”

Sekujur tubuh Icha bergetar hebat, jantungnya bergemuruh begitu dahsyat. Rasanya begitu menyesakkan melihat adegan demi adegan yang terpampang nyata di hadapannya. Ia tidak menyangka pria yang begitu ia cintai dan harapkan selama sepuluh tahun terakhir ini akan menjadi imam dan memberikan kebahagian di masa depannya itu, justru dengan tega menghancurkan perasaannya di hari jadi mereka yang ke sepuluh tahun malam ini.

Icha bahkan telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai asisten Psikolog di rumah sakit Internasional tempat dimana ia selama lima tahun terakhir ini meniti karirnya dengan penghasilan yang terbilang cukup fantastis untuk fresh graduate sepertinya. Hanya untuk dapat tinggal di kota yang sama dengan pria yang telah berjanji akan menikahinya, bahkan sejak seragam putih abu-abu itu belum lagi tanggal dari masanya.

Akan tetapi, semuanya seolah menjadi mimpi buruk bagi wanita yang kini masih terpaku di depan kamar kontrakan milik sang kekasih dengan derai air mata yang mengalir bak air terjun niagara karena pengkhianatan yang begitu menyakitkan untuknya tersebut.

Lidya, teman kerja sekaligus selingkuhan Diaz yang pertama kali menyadari kehadiran Icha itupun seketika menghentikan cumbu antara keduanya yang nyaris mendapati klimaksnya tersebut.

“Icha!” seru Lidya dengan suara tercekat. Ia tidak tahu pasti sejak kapan wanita yang ia tahu pasti adalah kekasih pria yang baru saja menciumnya dengan panas itu hadir menyaksikan apa yang baru saja mereka lakukan. Namun, dari ekspresi dan derai air matanya yang mengalir. Lidya tahu pasti Icha sudah melihat mereka lebih dari lima menit yang lalu.

Tidak berbeda jauh dengan Lidya, selingkuhannya. Diaz juga merasa begitu terkejut dengan kehadiran Icha yang tidak ia duga. Namun, meski sesaat Diaz sempat bergeming terpaku menatap sang kekasih dengan airmata yang membanjiri wajah manisnya itu. Diaz dengan segera berlari menghampiri Icha, berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya sudah tidak lagi perlu untuk dijelaskan. Karena nyatanya Icha sudah melihat apa yang kekasihnya itu lakukan.

“Cha! Tunggu Cha … please dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya. Ini gak seperti yang ada di pikiran kamu,” dengan napas tersengal Diaz berusaha memberikan penjelasan pada kekasihnya yang masih bergeming, mematung bak manekin yang ada di pajangan etalase butik.

“Ini semua salah paham Cha …, percaya sama aku!” lagi, Diaz berujar meyakinkan Icha yang masih belum juga mau bersuara selain isak yang terdengar semakin pilu di indera pendengaran siapapun yang ada disana.

“Ayo aku antar kamu balik ke penginapan aja Cha. Gak usah dengerin pria brengsek satu ini!” suara Adam menyela, menginterupsi usaha Diaz untuk meyakinkan kekasihnya tersebut.

Diaz sesaat tercengang mendapati Adam yang tiba-tiba ada diantara mereka, hingga detik selanjutnya otaknya berhasil mencerna, bahwa mungkin saja kehadiran Icha malam ini yang begitu tiba-tiba di kontrakannya itu adalah rencana Adam yang memang sengaja menjebaknya. Karena tidak seperti biasanya Icha datang ke kota ini tanpa pemberitahuan kepadanya lebih dulu.

“Sialan lu! Lu yang brengsek! Bangsat! … Ini semua pasti ulah lu kan? Lu yang bawa Icha kesini buat ngejebak gue sama Lidya?” maki Diaz penuh emosi, ia bahkan nyaris melayangkan bogem mentah ke wajah tampan pria berdarah Sunda itu dengan brutal. Namun, seketika Icha yang semula diam, berteriak menghentikan gerakan Diaz.

“Stop! Jangan sentuh Adam. Dia gak salah! Kamu … gak perlu jelasin apapun lagi sama aku. Sudah cukup semuanya sampai disini Mas, aku tidak lagi membutuhkan kalimat bantahan, atau pembelaan apapun dari kalian. KITA PUTUS! Aku pamit.”

Dengan langkah seribunya Icha menjauh dari rumah kontrakan kekasih yang beberapa detik lalu telah sah menjadi mantannya tersebut. Membawa sejuta rasa kecewa, sesak, dan sebah di dada yang mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat kembali baik-baik saja.

“Cha … Cha … tungguin aku dong,” seru Adam yang berlari mengejar Icha. “Kamu mau kemana? Aku antar ke penginapan ya?” tawar Adam lagi, memberi bantuan.

Icha menggeleng. “Gak usah Kak, aku balik sendiri aja, naik taxi,” tolak Icha seraya melemparkan senyum simpul yang jelas menyembunyikan kepahitan di dalamnya.

“Ini udah malam Cha, lagian kamu bukan orang asli sini. Ayo … biar aku antar. Gak apa-apa kok,” Adam kembali mendesak. Ia benar-benar tidak sampai hati melihat kondisi mantan kekasih sahabatnya yang brengsek itu.

Sesungguhnya saat itu Adam dan Icha berpapasan tanpa sengaja di persimpangan jalan yang menuju ke rumah kontrakan Diaz. Awalnya bahkan Adam justru ingin mengalihkan arah Icha dengan mengajaknya singgah ke kafe yang ada di sekitar area tersebut. Namun, Icha yang kepalang rindu berat dengan Diaz itupun memilih langsung menghampiri rumah Diaz, menolak tawaran Adam, yang sesungguhnya sudah lebih dulu tahu tentang keberadaan Lidya di sana.

Icha sekali lagi menggeleng kuat. Dia tahu, Adam sesungguhnya tahu kelakuan Diaz. Namun, enggan mengatakan padanya, karena keduanya adalah sahabat karib. Namun, lagi-lagi Icha masih belum mampu banyak berkata-kata, dan memberikan pertanyaan apapun pada Adam, karena emosinya yang belum stabil.

“Jangan khawatirkan aku.”

“Tapi Cha …,” ucapan Adam terhenti, karena Icha kembali menginterupsi.

“Aku ingin sendiri. Mohon pengertian kakak,” ujar Icha dengan nada datar dan tatapan dingin yang sungguh membuat Adam bergidik, tak lagi berani mendesak. Hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya, memberi pertanda bahwa dirinya paham dengan keinginan gadis tersebut.

“Baiklah kalau begitu,” jawab Adam, mengalah. Membiarkan kepergian Icha yang dengan segera menghentikan sebuah taxi dan menghilang dari pandangannya tanpa kata apapun lagi.

“Hassh … semoga dia akan baik-baik saja,” gumam Adam seraya bernapas berat.

***

Dengan langkah yang terhuyung, Icha berusaha keras untuk dapat tiba di kamarnya, meski kini kepalanya benar-benar terasa mau pecah di hantam rasa sakit yang mendera akibat terus menangis. Hingga tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang pria yang sedang menunggu lift bersama dengan temannya.

“Bruuk!”

“Aakh … maaf,” ujar Icha, seraya memegangi kepalanya.

Pria bersetelan tiga itu pun memindai Icha dari ujung rambut, hingga ujung sepatu ketsnya yang berlumpur. Sungguh sebuah penampilan yang sangat berantakan untuk wanita semanis Icha.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria itu sopan.

Icha spontan mengangguk kuat, bersamaan dengan denting suara lift yang terbuka. Membuat pria itu tak lagi memiliki kesempatan untuk memberikan pertanyaan, ataupun menawarkan bantuan. Sebab, dengan impulsif Icha langsung masuk ke dalam lift tersebut tanpa memperhatikan tujuan lift yang akan bergerak turun ke lantai dasar, sementara kamar tempat Icha menginap ada di lantai dua belas. Hingga saat Icha mulai merasa lift itu turun ke bawah ia mulai mendengus kesal.

“Haiiss! Kok malah turun sih?”