Nyaris
“Manusia boleh saja berencana. Namun, lagi … dan lagi, Tuhanlah yang memiliki diri ini beserta dengan semua takdir yang menyertai”Setelah menahan segala rasa sakit dan kesal yang menjadi satu. Kini, Icha telah mendaratkan tubuhnya di atas kasur berukuran queen di kamar tempatnya menginap selama berada di kota asing yang bersebrangan pulau dengan kota tempatnya tinggal.
Airmata itu mulai kembali meluncur dari pelupuk mata indahnya, bahkan kini area sekitar kelopak matanya pun telah bengkak, karena berjam-jam menghasilkan butiran kristal bening yang tak kunjung dapat berhenti. Bayangan pengkhianatan Diaz masih terus mengusik pikirannya. Suara deru napas memburu Diaz dan desah kenikmatan yang Lidya dengungkan masih terus menari di indera pendengarannya seolah menjadi belati untuk terus menyayat hatinya yang dirasa kini sudah hancur bersimbah dendam.
Bagaimana ia dapat menerima ini sebagai sebuah ketetapan Tuhan yang harus ia ikhlaskan begitu saja, sementara kini ia telah kehilangan segalanya. Cintanya, karirnya, dan semua itu adalah pijakan masa depannya. Icha benar-benar di buat sehancur-hancurnya oleh takdir kali ini.
Serangan rasa sakit dikepalanya semakin menerjang, membuatnya bergegas untuk secepatnya menenggak paracetamol yang tadi sempat ia beli di apotik sekitar penginapan tersebut. Meski sejak ia mendarat di kota ini, belum ada sebutir nasipun yang masuk ke dalam pencernaannya. Icha tetap nekat untuk meminum pil tersebut. Namun, entah setan apa yang mendadak merasuki dirinya, tiba-tiba saja terbesit dalam pikirannya untuk meminum pil tersebut dalam jumlah yang banyak. Agar dirinya dapat menyelesaikan semua sebah yang kini benar-benar terasa menghimpit dadanya, hingga sulit bernapas.
“Bila memang kau begitu ingin menyakitiku, maka aku akan segera datang kehadapanmu wahai dzat yang selalu ku sembah!” ujar Icha bermonolog lantang. Seolah hendak menyerahkan diri pada sang pencipta dengan amarahnya yang kini sudah di ambang batas kewarasannya sendiri.
Icha dengan penuh keyakinan membuka semua paracetamol tersebut, lalu dengan rakus menelannya dengan bantuan air yang ada di nakas samping tempat tidur. Hingga rasa panas itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat irama detak jantungnya semakin menggebu tidak beraturan hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Bukannya menyembuhkan sakit kepala yang sudah ia rasakan sejak beberapa jam lalu, kini justru semakin berdentam-dentam di tambah denging yang mengusik indera pendengarannya. Membuat kesadarannya perlahan menghilang.
“Pyaaar!”
Suara nyaring dari pecahan gelas yang jatuh kelantai itu mengejutkan Hanan, yang saat itu kebetulan melewati kamar Icha yang pintunya memang setengah terbuka. Entah sebuah kebetulan, atau memang keberuntungan bagi Icha yang tanpa sengaja tidak menutup dengan benar pintu kamarnya, di saat keinginan untuk mengakhiri hidupnya itu datang menyerang. Yang jelas, kini Hanan dan seorang temannya yang lain bergegas masuk untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut.
“Astaghfirullah!” seru Hanan, di ikuti oleh temannya yang kini terpaku memandangi kondisi Icha yang cukup memprihatinkan tersebut.
Mulut Icha yang dipenuhi oleh busa putih dengan mata terpejam menahan sakit dan denyut nadi yang begitu lemah. Icha mungkin saja saat ini sedang bernegosiasi dengan malaikat maut untuk segera membawanya bertemu dengan Tuhan yang dengan kejamnya memberikan cobaan yang kali ini benar-benar tidak dapat ia terima dengan lapang dada, penuh keikhlasan.
“Gimana Han? Masih ada?” tanya Raskha yang sedari tadi kikuk menghadapi kondisi mengejutkan di hadapannya ini.
“Tolong kamu cepat panggilkan ambulance ya,” perintah Hanan.
“Oke … oke! Sekalian aku ke bawah ya, cari bantuan pegawai hotel yang lain.”
“Hmm … segera!”
Sementara Raskha berlari mencari bala bantuan. Hanan terus memeriksa denyut nadi Icha yang semakin lemah. Namun, sebagai seorang dokter, Hanan tidak patah arang untuk terus memperjuangkan nyawa wanita yang ada di pangkuannya saat ini. Wajahnya yang begitu pucat entah mengapa membuat Hanan merasa begitu iba padanya. Meski ini bukan kali pertama melihat seseorang diambang kematiannya. Namun, kali ini Hanan benar-benar begitu ingin menyadarkan wanita ini. Menyelamatkan nyawanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mengapa jalan ini yang kamu pilih sebagai solusi?” gumam Hanan bermonolog, karena nyatanya Icha tak akan mampu mendengarnya.
Sejak ia melihat wanita ini di depan pintu lift beberapa waktu lalu tadi, ia sudah menyadari bahwa ada yang tidak beres dengannya. Penampilannya yang berantakan, dengan mata sembab yang terlihat jelas-jelas memperburuk penampilannya itu, sungguh dapat dengan muda di tebak bahwa ia memang sedang tidak baik-baik saja.
Hanan masih terus berusaha melancarkan jalan napas Icha, saat Raskha kembali datang dengan tandu, dan beberapa pegawai hotel yang lainnya.
“Gimana Han?” tanya Raskha yang tidak kalah panik.
“Masih ada, ayo cepat!” jawab Hanan, yang bergegas mengangkat tubuh kecil Icha ke atas tandu yang sudah di siapkan.
“Apa yang sebenarnya terjadi Pak?” tanya salah satu pegawai hotel penasaran, sekaligus takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada reputasi hotel tempanya mengais rezeki ini.
“Dugaan sementara saya, wanita ini overdosis obat penghilang rasa sakit,” jawab Hanan.
“Apa dia akan baik-baik saja?” tanyanya lagi semakin takut.
Hanan mengedikkan bahunya. Denyut nadinya begitu lemah, semoga kita tidak terlambat memberikan pertolongan padanya, agar semua baik-baik saja.”
Pegawai hotel itupun mengangguk paham dengan penjelasan Hanan meski rasa was-was dihatinya masih sangat mengusik detak jantungnya. “Semoga ya Pak, kami berdoa agar Nona itu baik-baik saja.” ucapnya tulus.
Hanan memukul pelan pundak pegawai hotel tersebut, seraya melangkah cepat mengikuti petugas rumah sakit dan Raskha yang akan mengantarkan wanita muda itu ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan segera.
Hingga akhirnya kurang dari lima belas menit, mereka sudah tiba di rumah sakit. Membuat Hanan dengan cekatan membantu proses evakuasi wanita tersebut untuk di bawa langsung ke ruang UGD, karena ia adalah salah satu staff dokter yang bertugas di sana.
“Dokter Hanan?” seru salah satu suster yang mengenalinya dengan antusias.
“Delima! tolong siapkan ruang UGD untuk sterilisasi, pasien ini overdosis!” perintah Hanan tegas, yang langsung di laksanakan oleh sang suster dengan cekatan. Suster yang sudah sangat terlatih itu tanpa ragu menyediakan segala jenis obat yang dibutuhkan, sesuai perintah Hanan.
“Aku harap tidak terjadi kerusakan pada fungsi livernya,” gumam Hanan, penuh harap.
“Apa dia meminumnya dalam jumlah yang banyak?” tanya Delima memastikan.
Hanan mengangguk. “Aku rasa mungkin ada sekitar dua puluh butir, atau bahkan lebih,” terang Hanan, dengan napas berat.
“Padahal cantik, kenapa kesannya mau bunuh diri ya Dok?”
Hanan tersenyum simpul seraya mengedikkan bahunya. “Emang orang cantik gak boleh punya masalah?”
Delima tersenyum malu-malu. “Ya kan, kemungkinannya dikit Dok?”
“Sok tahu deh, kamu. Udah kamu hitung dosisnya?”
Delima dengan spontan mengangguk. “Siap Dok!”
“Berikan obatnya, dan observasi terus kondisi lanjutannya hingga ia sadar. Panggil aku, bila membutuhkan sesuatu,” titah Hanan lugas sebelum meninggalkan ruang UGD, setelah memeriksa kondisi Icha secara menyeluruh.
Hanan, baru saja hendak membuka daun pintu ruang UGD tempat Icha terbaring lemah, saat tiba-tiba saja suara wanita itu menggumam pelan.
“Di … ma … na … I … ni?”