Second Change
“Hal apa yang paling di benci oleh semua orang?”‘Bangun tidur setelah putus’Hanan menghentikan langkahnya, mendengar suara lirih wanita yang baru saja ia selamatkan dari mautnya itu seketika ia membalikkan tubuhnya dan kembali mneghampiri ranjang Icha.
“Dia sudah sadar Dok!” ujar Delima, antusias.
Perlahan Hanan dapat melihat kedua bola mata cokelat indah itu muncul dari kelopak mata sendu yang sedari tadi terpejam, dengan ekspresi rasa sakit tak terperi yang jelas terlihat dari raut wajah ayu itu.
“Hallo, kamu bisa dengar saya?” ujar Hanan, memulai percakapan dengan Icha yang sedang memindai seluruh sudut ruangan putih tempat dimana ia kini terbaring lemah tidak berdaya.
Awalnya Icha mengira dirinya telah berada di dunia lain. Dunia baru yang mungkin saja akan membawanya pada awal hidup baru, seperti apa yang dia pikirkan sebelum akhirnya dengan segenap keberanian yang lebih tepat di sebut nekat, Icha menenggak semua paracetamol yang dia beli dalam satu waktu yang sama beberapa waktu yang lalu.
Sesaat Icha menatap lekat manik hitam pekat, nan berkilau milik pria berjubah putih di hadapannya itu, lalu membuang arah pandangannya ke sembarang tempat di detik berikutnya.
“Dimana saya?” tanya Icha, lirih. Seperti ada kecewa dalam nada suaranya, sesaat setelah ia menyadari bahwa ini bukan tempat baru yang dia inginkan. Meski pria di hadapannya terlihat begitu menawan bak dewa-dewa dalam anime Yunani, di komik yang pernah ia baca.
Hanan mengurai senyum termanisnya sebelum menjawab, meski kini Icha enggan bertatapan langsung dengannya. “Kamu di rumah sakit Joy and Healthy.”
“Haiss! Kenapa harus ada orang sok baik yang membawaku ke sini, menggagalkanku untuk bertemu Tuhan dan mengobrak-abrik langit?” gerutu Icha dalam hati.
“Apa Nona ini akan kita pindahkan ke ruang perawatan Dok?” Delima menginterupsi, menyadarkan Hanan, dan Icha yang sedang dalam pikirannya masing-masing.
Hanan menoleh, lalu mengangguk pelan.
“Baik Dok, saya akan mengambilkan formulir administrasi, agar Nona ini dapat mengisinya.”
Hanan kembali mengangguk, lalu kembali memandang Icha yang masih menatap ke arah jendela. Dengan tatapan kosong yang masih penuh luka itu.
“Siapa yang membawa saya ke sini?” tanya Icha, setelah Delima benar-benar telah menghilang dari balik pintu ruang Unit Gawat Darurat itu.
“Aku!” jawab Hanan mantap. Penuh percaya diri.
Icha yang mendengar pengakuan itupun seketika menatap tajam Hanan yang juga sedang menatapnya dengan senyum menawan yang tak surut sejak Icha membuka mata beberapa waku lalu.
“Untuk apa kamu menolongku? Kita tidak saling mengenal?!” seru Icha emosi, membuat Hanan kehilangan senyum dan mengerutkan dahinya. Bukannya berterima kasih, Icha justru memarahinya, seolah tidak terima dengan bantuan yang ia berikan hingga nyawanya masih menyarang dalam jasad indah miliknya itu.
“Hassh … Ck! Bukannya terima kasih, malah di semprot. Padahal biasanya di drama-drama yang aku lihat. Kalau kita nolongin cewek itu, ceweknya bahagia, terus ngajak nikah. Ini? Malah ngomel,” batin Hanan bermonolog. Kesal karena tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Kamu tahu gak sih …? Apa yang paling aku benci saat ini?” tanya Icha yang kali ini justru terdengar seperti rengekan anak kecil yang menggemaskan.
Hanan menggeleng dan dengan sabar menantikan Icha melanjutkan keluhannya. “Emang apa? Sakit karena gak jadi mati?” polosnya Hanan menanggapi.
Icha menggeleng kuat, seraya menyeka air mata yang kembali mengalir membasahi pipi dengan punggung tangannya. “Bangun tidur, setelah putus!”
Hanan nyaris meledakkan tawanya. Bila saja ia tidak mengingat kondisi Icha yang sedang tidak stabil saat ini pasti ia akan habis-habisan meledek gadis yang ada dihadapannya saat ini. “Hari gini, masih zaman patah hati bunuh diri? Emang kamu udah di apain aja?” batin Hanan lagi.
Merasa tidak di respon dengan baik oleh Hanan. Icha pun kembali menatap dokter jomblo itu dengan tatapan tajam yang tak kalah dengan tajamnya belati yang siap menghunusnya. “Tanya dong, kenapa? Gak perhatian banget sih jadi dokter,” keluh Icha lagi, meminta perhatian. Membuat Hanan begitu tertegun dalam beberapa saat ketika mendengarnya.
“Ajaib banget nih adek-adek. To the point banget minta perhatian,” Hanan kembali membatin.
“Apa semua laki-laki emang gitu ya?” ujar Icha pelan.
“Gak lah! Saya gak gitu kok,” sanggah Hanan.
“Gak gitu gimana?” balas Icha mengernyit, bola matanya bahkan nyaris tidak terlihat karena kelopak matanya menyipit sempurna.
“Ya … maksud kamu emang gitu, gimana?” Hanan balik melemparkan pertanyaan.
Icha mengesah berat, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau gak tahu maksudnya jangan asal nyahut dong,”
Hanan tidak mau kalah. “Kamu juga kalau belum kenal , jangan bilang semua laki-laki emang gitu dong.”
Icha pun berdecak kesal, membuat Hanan tertawa geli. Wanita di depanya ini cukup menghibur. Pikirnya. Membuat Hanan benar-benar tertarik untuk mengenalnya lebih dekat.
“Saya Hanan,” ujar pria bertubuh atletis yang diperkirakan memiliki tinggi lebih dari seratus delapan puluh sentimeter, seraya mengangsurkan tangannya, mengajak Icha berkenalan.
“Icha!”
“Imut ya namanya, pas sama orangnya,” goda Hanan lagi, memancing respon dadakan wanita di hadapannya ini, seperti yang tadi-tadi.
Icha kembeli menghela napasnya dalam, ia mendadak jengah dengan gombalan Hanan yang menurutnya pasaran. “Ck! Berisik banget sih. Gak tahu apa orang baru aja patah hati?” batin Icha bersungut.
“Permisi Dok, ini formulir yang harus di isi oleh nona ini, agar kita dapat menyiapkan kamar yang akan di tempatinya,” Delima kembali menghampiri Hanan, yang baru saja ingin membuka kembali mulutnya untuk mengusik Icha yang jelas kelihatan kesal. Namun sangat menggemaskan itu.
Icha bergeming, seketika kepalanya kembali mendapatkan serangan rasa sakit di bagian sebelah kiri. “Hassh! Buat susah lagi kan, udah bener milih mati biar gak mikirin bayar uang hotel. Ini malah nambah beban biaya rumah sakit,” umpat Icha, frustrasi.
Hanan yang melihat riak wajah Icha yang kalut itupun seolah paham dengan apa yang ada di dalam pikiran wanita yang sepertinya telah berhasih mencuri sudut hatinya itu. Dengan sigap, ia pun mengambil kesempatan.
“Biar saya yang urus Del, kamu kembali bekerja. Nanti formulir ini saya antar kembali ke administrasi,” ucap Hanan, mengambil formulir dari tangan Delima.
Delima terkejut. Namun, meski demikian ia tetap memberikan senyum terbaiknya di hadapan dokter idola rumah sakit tersebut. Untuk pertama kalinya ia mendapati dokter kaku, dingin, dan minim ekspresi ini betah berlama-lama berinteraksi dengan pasien wanita, ditambah lagi mau direpotkan dengan urusan administrasi pasiennya.
“Baik Dok, kalau begitu saya pamit dulu,” ujar Delima mengundurkan diri. Meninggalkan Hanan, dan Icha yang sepertinya masih ingin melanjutkan percakapan diantara mereka.
Hanan mengangguk, seraya memastikan kepergian Delima. Lalu, detik berikutnya ia kembali melangkah mendekat kembali ke ranjang Icha, membuat wanita yang masih terbaring lemas itu menatapnya penuh was-was dan tanda tanya besar.
“Ka - kamu mau apa?” tanya Icha gugup, membuat wajah pucatnya semakin gelisah.
Hanan menaikkan sebelah bibirnya, menahan tawa yang ia tahan untuk tetap terlihat serius dihadapan wanita ini. “Mau ngasi ini,” dengan santai ia mengangsurkan formulir yang tadi ia ambil dari Delima.
Dengan secepat kilat Icha pun menarik kertas tersebut, dan membacanya. Hingga sesaat kemudian kembali bertanya. “Apa aku tidak bisa langsung pulang saja?”
Hanan mengerutkan dahinya. “Pulang?” beonya memastikan.
Icha mengangguk. “Kondisiku tidak parahkan?” ujar Icha kembali memastikan.
Hanan mengedikkan bahunya. “Kami belum melakukan pemeriksaan secara menyeleruh pada tubuh Anda, Nona.”
“Apakah harus dilakukan?” Icha terlihat semakin resah.
Hanan mengangguk kuat, meyakinkan. “Ya, sebaiknya begitu.”
Icha mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. “Ck! Bagaimana caranya ia harus membayar?” batin Icha, kalut. Bisa-bisa ia tidak akan dapat kembali pulang ke Medan.
“Memang seharusnya aku mati saja,” gumam Icha pelan. Namun, Hanan masih dapat mendengarnya samar-samar, dan itu cukup membuatnya terkejut.
Hanan tidak ingin membahas ucapan Icha sekarang. Namun, sepertinya ia mulai memahami kondisi yang dialami oleh wanita yang kelihatannya sangat putus asa ini.
“Aku akan bantu kamu, anggap aku sedang memberikan kamu kesempatan kedua.