Berhenti Berharap
“Berharap pada manusia adalah seni menghancurkan diri yang paling sederhana”Icha tertegun dengan dahinya yang mengernyit dalam. Ia sama sekali tidak mengenal pria yang dengan gagah berdiri dihadapannya ini. Namun, lagi-lagi pria itu bersedia membantunya.
“Aku memang tampan, tapi jangan memandangiku terlalu lama. Nanti kamu bisa kecanduan,” goda Hanan yang di sambut helaan napas Icha yang berat.
“Selain menjadi dokter, apa kamu juga seorang dukun?” bukannya membalas lelucon garing Hanan, Icha justru memberikan pertanyaan lain, yang terdengar begitu konyol.
Hanan nyaris terbahak, mendengar ucapan Icha yang di lontarkan dengan mimik wajah tak berdosa itu. “Dukun?”
“Ya dukun? Buktinya kamu tahu, aku lagi kepikiran gak bisa bayar rumah sakit, karena emang udah gak punya uang,” terang Icha, mengadu, jujur.
Gantian Hanan yang kini mengerutkan dahi. “Itu mudah! Ada dua hal yang paling sering menjadi dasar alasan untuk seseorang hingga mereka berani mati bahkan dengan cara bunuh diri sekalipun.”
“Apa?” cecar Icha tidak sabar.
“Patah hati dan kesulitan ekonomi,” Hanan menjawab dengan santai, seraya menarik kursi yang ada di sudut ruang unit gawat darurat tersebut, ke sisi ranjang Icha.
Mendengar jawaban Hanan yang begitu telak, Icha justru di buat diam seribu bahasa oleh pria tampan nan mapan, yang berprofesi sebagai dokter itu. “Sial! Bener lagi, tebakannya,” batin Icha mengumpat.
“Jadi kamu ternyata kelompok yang kesulitan ekonomi toh?” ujar Hanan, melanjutkan tebakannya. Namun justru di balas oleh gelengan kuat Icha yang membuat Hanan kehilangan senyum kemenangan yang sesaat lalu sempat menghiasi wajahnya itu.
“Aku sudah bilang tadi, aku juga sedang patah hati. Jadi, aku adalah member dari kelompok keduanya,” jawab Icha pelan, antara malu dan enggan mengungkapkannya dengan lebih terang-terangan.
Hanan tercengang sesaat. Ia sama sekali tidak berniat untuk membuka luka pasien di depannya ini. Namun, sepertinya ucapannya yang lalu membuat wanita ini harus kembali mengenang kejadian tidak menyenangkan yang membuat mereka bertemu, dan saling mengenal dengan takdir yang seperti ini.
“Maaf … aku tidak bermaksud, ….”
“Gak apa-apa. Kamu benar kok. Gak harus minta maaf,” ujar Icha menginterupsi permohonan maaf Hanan padanya. Membuat suasana di dalam ruangan tersebut mendadak canggung, berselimut keheningan hingga beberapa menit kemudian.
“Berapa tagihan yang harus aku bayar?” suara Icha kembali memecah kesunyiaan.
Hanan tersenyum tulus, sebuah senyum manis yang sedikit mengusik perasaan Icha yang kini campur aduk. “Belum banyak sih, tapi mungkin kalau kamu nginap beberapa hari lagi di sini, ya bakal nambah lumayan,” terang Hanan jujur. Membuat Icha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Uangku di ATM, kayaknya udah gak nyampe satu juta deh,” adu Icha jujur. Karena pasalnya kedatangannya ke kota ini adalah untuk memulai hidup baru dengan Diaz. Icha pikir setelah dirinya resign dan membayar denda pada perusahaan yang membuat seluruh tabungannya terkuras, ia akan mulai tinggal di kota ini bersama dengan Diaz sebagai penopang hidupnya.
Hanan kembali tersenyum menjawab kejujuran Icha. “Jangan khawatir, aku akan bantu kamu, seperti yang aku ucapkan tadi.”
Icha mengangguk. “Lalu, bagaimana aku harus membayarnya?”
“Kamu sehat dan mulailah hidup dengan lebih baik,” jawab Hanan lembut.
“Aku akan bekerja padamu. Sekalipun harus menjadi asisten rumah tangga untuk membersihkan rumahmu dan menyiapkan segala kebutuhanmu. Aku akan lakukan, hingga semua hutangku lunas,” ucap Icha, sungguh-sungguh. Membuat Hanan terpaku sesaat dengan penawaran tersebut.
Sesungguhnya ia tidak memerlukan asisten rumah tangga, sebab di Ibukota ini ia hanya tinggal di sebuah apartemen tipe studio yang kecil. Sehingga ia terbiasa membersihkan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Lagipula, ia juga tidak terlalu suka berbagi tempat tinggal dengan orang asing, apalagi dengan wanita yang baru ia kenal.
“Bagaimana?” tanya Icha lagi memastikan, karena Hanan tidak kunjung memberikan tanggapan, dan jawaban. “Sebenarnya, aku tidak punya siapapun di kota ini selain dia.”
“Dia?” beo Hanan, menyela ucapan Icha. Meski awalnya tidak ingin tahu lebih dalam tentang permasalahan wanita di hadapannya ini. Namun, entah mengapa saat Icha membuka cerita tentang itu, mendadak ia menjadi sangat ingin tahu.
Icha mengangguk. “Iya, Dia! Laki-laki brengsek yang telah membuat aku memiliki alasan sempurna untuk bunuh diri, hingga akhirnya bertemu denganmu dalam keadaan yang paling mengenaskan seperti saat ini.”
“Gimana ceritanya?” tanya Hanan semakin penasaran.
Icha menoleh sejenak ke arah Hanan yang terlihat begitu khusyuk mendengarkannya, seperti seseorang yang sedang mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah dari sang penda’i. Membuatnya tertawa miris, sebelum kembali melanjutkan kisahnya. Helaan napasnya bahkan kini terdengar begitu berat, membuat Hanan kembali ragu untuk kembali mendesak Icha.
“Aku gak tahu harus mulai darimana karena hubungan kami sudah berjalan begitu lama,” Icha mencoba mengurai kata. “Karena terlalu lamanya, aku sampai benar-benar berharap hidupku akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.”
Hanan kembali mengurai senyum manis, yang jelas dapat Icha sadari di berikan lelaki itu padanya dengan tulus. Membuat Icha segera melemparkan pandangannya ke arah lain dari ruangan tersebut. Ia baru saja patah hati, dengan patah yang begitu parah, sehingga sangat bahaya bila terus memandang hal-hal indah seperti yang kini menghiasi wajah mulus bak porselen milik dokter muda yang baru ia kenal itu.
“Manusia memang umumnya suka lupa, apalagi makhluk Tuhan paling indah bernama wanita.”
“Lupa?” beo Icha, mencecar maksud dari ucapan Hanan.
Hanan mengangguk. “Ya, lupa! Lupa kalau pria itu adalah makhluk paling pikun yang tidak dapat kamu harapkan apapun darinya.”
Icha semakin mengerutkan dahinya, masih mencerna sekaligus menelaah ucapan Hanan. “Maksud kamu?”
Lagi-lagi Hanan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah … kami para pria yang jarang sekali berpikiran panjang dan dalam ini lebih suka hal-hal sederhana, yang instan. Seperti berjanji sebelum hatinya yakin bahwa apa yang di ucapkan akan mampu ia tepati atau tidak. Meskipun ….”
“Meskipun apa?”
“Meskipun tidak semua pria seperti itu, tapi tidak aku pungkiri bahwa banyak kaum kami yang seperti itu. Maka ….”
“Maka apa?” kembali Icha mencecar ucapan Hanan, yang sepertinya memiliki hobi bernapas panjang sebelum menyelesaikan kalimatnya, membuat Icha geregetan dan penasaran dengan kelanjutan kalimat yang akan keluar dari mulutnya itu.
“Maka jangan pernah berharap apapun pada manusia, khususnya pria. Karena itu merupakan seni menghancurkan diri yang paling sederhana, yang akan menghancurkan kamu setelahnya, meski kenyatannya sungguh bukan dia yang melukai kamu hingga dalam seperti ini, melainkan kamu sendiri yang terluka karena tingginya harapan kamu terhadapnya. Maka sejak awal kamu seharusnya bukan sabar, tapi sadar dan berhati-hatilah.”
Icha kembali di buat tidak dapat berkata-kata. Sungguh ucapan Hanan selalu mampu membuatnya menyadari betapa selama ini ia terlalu naif dan bodoh berharap pada Diaz. Meskipun pria itu adalah sosok ideal yang menurutnya kala itu sangat mampu memberikannya kebahagian, Icha melupakan satu hal yang paling dasar dari seni berhubungan sosial antar manusia yaitu jangan terlalu berharap pada apapun yang bernapas dengan saling memperebutkan oksigen dengannya.