Apa Yang Harus Di Jelaskan?
“Jangan pernah menjadi seseorang yang selalu ada, untuk orang yang menjadikan kamu sesempatnya”Icha dan Hanan masih saling membisu di ruang Unit Gawat Darurat setelah beberapa saat yang lalu lagi-lagi Hanan menyubit sudut hati Icha yang paling dalam dengan ucapannya, saat terdengar suara gaduh dari balik pintu ruangan tersebut. Membuat Hanan bergegas melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.
“Ada apa itu?”
“Kamu beristirahatlah, aku akan keluar melihatnya dan menyiapkan kamar untuk perawatan kamu selama beberapa hari ke depan, hingga kita mendapatkan hasil lebih lanjut tentang bagian vital lainnya yang mungkin saja terganggu karena konsumsi obat kamu yang berlebihan itu,” ujar Hanan seraya beranjak meninggalkan Icha di sana.
“Baiklah,” jawab Icha patuh. “Terima kasih … tapi,” ucapan Icha kembali menggantung. Ia ragu melanjutkannya karena rasanya sangat sungkan bila harus terus merepotkan pria yang terlihat baik dan tulus di hadapannya ini.
“Tapi?’ beo Hanan menghentikan gerakannya untuk melanjutkan langkah, menantikan ucapan Icha selanjutnya. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Icha sendiri.
Icha meringis, memperlihatkan jajaran gigi putih nan rapi miliknya. Sebelum akhirnya dengan segenap keberanian bercampur rasa malu yang dia miliki, Icha mengutarakan keinginannya.
“Hmm … begini Dok … apakah Anda dapat membantuku lagi, menyelesaikan masalah administrasi dan check out dari hotel kemarin?” ucapnya benar-benar sungkan. “Masukkan dulu kedalam bon hutang. Aku akan membayarnya beserta dengan biaya rumah sakit kali ini,” imbuh Icha lagi, mencoba memberikan keyakinan dan penekanan bahwa ia tidak akan menipu Hanan di kemudian hari dan akan bertanggung jawab dengan apa yang telah Hanan keluarkan untuknya kali ini.
Hanan tersenyum geli. Namun, tak urung ia pun mengangguk tanpa banyak kata. “Oke.”
“Terima kasih Dok, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu.”
Hanan kembali melangkah keluar dari ruang UGD dan mendapati beberapa orang suster dan juga orang-orang dari post pengamanan yang berkumpul di depan ruang UGD tersebut. Menghalangi pria berkaos polo navy, yang sepertinya sangat ingin masuk ke dalam.
“Ada apa ini Sus, Pak?” tanya Hanan seraya menatap suster dan satpam rumah sakit itu bergantian.
“Aku mau ketemu tunanganku, masa iya gak boleh?” seru pria tersebut, tak memberikan kesempatan pada suster, maupun satpam itu untuk menjelaskan.
“Tunangan Anda? Siapa?” tanya Hanan, memastikan.
“Perempuan yang ada di dalam lah, siapa lagi?” kesal pria itu, lagi.
“Emang Anda tahu siapa yang ada di dalam? Tahu darimana? Gimana kalau yang di dalam cuma ada nenek saya?” ucap Hanan mencoba mengelabui. Sepertinya ia mulai mengerti bahwa pria ini adalah ‘Dia’ yang menjadi alasan mengapa wanita di dalam melakukan hal bodoh yang nyaris saja merenggut nyawanya sendiri. “Ck! Padahal tampangnya biasa aja, cakepan juga aku,” batin Hanan, mengimbuhi.
“Jangan bohong! Aku dapat info dari pegawai rumah sakit ini. Gak mungkin dia salah lihat, karena kami memang saling mengenal,” pria itu bersikeras dan menantang Hanan. “Minggir! Aku mau masuk,” dengan keras tubuh Hanan pun di dorong olehnya.
“Hai Bung! Ini rumah sakit, jaga sikap Anda!” ujar sang satpam yang sedari tadi sudah geram melihat sikap pria tersebut dan ingin segera memberikan bogem mentah ke wajahnya.
“Tahan Pak Usman!” cegah Hanan, dengan tangan kirinya yang memegang pundak pria berusia empat puluhan itu. “Siapa pegawai yang kamu maksud itu? Dan apa yang dia katakan?” imbuh Hanan lagi, penuh selidik.
“Apa urusanmu dia siapa dan mengatakan apa? Yang jelas, aku ingin bertemu dengan tunanganku. GAITSHAA!” jawabnya penuh penekanan.
“Tapi di dalam tidak ada pasien yang bernama itu,” elak Hanan.
Pasalnya ia memang tidak mengetahui nama lengkap dari gadis yang ia tolong di dalam, meski sesungguhnya ia cukup tahu bahwa wanita yang di akuinya sebagai tunangan itu adalah Icha. Karena foto yang ada dalam pelukan Icha saat wanita itu tidak sadarkan diri adalah foto pria yang sedang beradu mulut dihadapannya ini.
“Tidak mungkin! Kalian pasti sedang menyembunyikannya. Jangan bohongi aku. Aku ingin bertemu dengannya!” pekik pria itu lagi terus memaksa. Membuatnya menjadi tontonan, bagi orang-orang yang tengah berlalu lalang di lorong tersebut. “Biarkan aku masuk dan melihatnya sendiri,” desaknya lagi masih terus memaksa, membuat Hanan mau tidak maumemberikan izin, agar ia masuk, meski petugas keamanan bernama Usman itu kembali hendak menghentikan langkahnya.
“Hei! Tunggu dulu!”
“Biarin aja Pak, aku akan mengawasinya di dalam,” ujar Hanan, melerai sekaligus menghela pria tersebut masuk ke dalam ruang UGD tempat dimana Icha kini sedang beristirahat. “Mohon kerjasamanya untuk menjaga kenyamanan pasien di dalam. Jangan melakukan hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan pasien, atau saya akan bertindak sangat tegas pada Anda,” imbuh Hanan memberikan peringata yang langsung di angguki oleh pria tersebut.
Pria berkaos Polo navy, bernama Diaz itu pun mengikuti langkah Hanan dengan hati-hati. Meski jelas terlihat wajahnya tak lagi setegang saat tengah beradu mulut dengan suster dan petugas keamanan yang sedang berjaga di luar beberapa waktu lalu. Namun, tetap saja Hanan dapat melihat kegusaran menyelimuti pria hitam manis itu.
Melihat kehadiran Hanan kembali, Icha segera membenahi posisi duduknya. Ia pikir pria, yang menjadi dokternya itu akan segera membawanya ke ruang perawatan. Namun, mendadak senyum lembut yang menyambut kehadiran Hanan itu berubah menjadi wajah penuh ketakutan dan kebencian saat wajah Diaz muncul dibalik tubuh atletis Hanan yang memiliki tinggi hampir seratus depapan puluh lima sentimeter itu.
“Hanya ada satu pasien di ruangan ini, dan namanya bukan Gaitshaa,” Hanan sengaja membuka suara, seolah tidak memahami masalah yang sedang terjadi diantara keduanya, meski sedikit banyak Icha telah menceritakan kisahnya secara tersirat beberapa waktu lalu.
Diaz segera menghambur ke dalam pelukan Icha, membuat wanita itu tidak berkesempatan mengelak dan terjebak dalam dekapan erat Diaz yang kini justru terdengar sedang terisak.
“Maafin Mas … maafin Mas sayang. Semuanya yang kamu lihat itu gak bener, Mas dijebak. Mas sama Lidya itu gak ada hubungan apa-apa,” ucap Diaz dengan pengucapan yang tidak jelas, karena dibarengi dengan tangisan. Sementara Icha masih saja mematung beku, tak mampu berkata apapun.
Sementara itu, Hanan yang melihat drama dihadapannya itu hanya tersenyum mencela, seolah sedang mengejek apa yang dilakukan oleh Diaz.
“Apa kamu dapat meninggalkan kami berdua, kami ingin berbicara serius,” ujar Diaz lagi, seraya mengurai pelukannya pada Icha dan menghapus butiran kristal bening yang sempat membasahi pipinya dengan punggung tangannya.
Hanan menggeleng kuat, menolak permintaan Diaz yang sebenarnya dapat ia lakukan dengan mudah. Namun, entah mengapa hati kecilnya sangat tidak rela meninggalkan Icha dengan pria yang menjadi alasan ia melakukan tindakan bodoh tersebut.
“Maaf, ini ruang UGD bukan ruang perawatan yang dapat dengan mudah di kujungi oleh kerabat pasien, dan aku bertanggung jawab atas pasien yang baru saja kamu peluk paksa itu.”
“Apa maksud kamu? Aku ini tunangannya, aku tidak mungkin melukainya.”
“Ah ya … tapi,”
“Tadi kamu menghalangiku masuk dan mengatakan bahwa tidak ada pasien bernama Ghaitsaa. Namun, akhirnya apa yang temanku katakan justru benar adanya bahwa tunangaku ini ada di sini. Apa Kalian benar-benar ingin menyembunyikanya dari saya? Untuk apa?” omel Diaz, penuh marah.
“Pelankan suara kamu Mas! Dia memang gak tahu nama asliku,” tegur Icha akhirnya, tidak tahan dengan emosi Diaz yang membuat ribut ruangan tersebut.
“Tapi Sayang, Mas Cuma mau bicara sama kamu berdua, Mas mau jelasin semuanya biar gak ada salah paham lagi,” sanggah Diaz, mencoba menarik perhatian Icha yang sepertinya tidak mendukung keinginannya.
“Jelasin apalagi? Gak ada yang perlu di jelasin lagi. Aku udah lihat semua.”
“Apa yang kamu lihat itu, gak seperti apa yang kamu pikirkan, Yang,” kilah Diaz masih terus mencoba meyakinkan Icha.
“Ck! Inget pesan aku, Cha. Kamu jangan mau selalu ada dan dengerin apa aja dari orang yang hanya akan mendatangi kamu sesempatnya.”