LNCrawler

Perjodohan

Wanita Berselimut Api — gooddreamer.id · All chapters

Perjodohan

"Bagaimana, Mur?"

"Murni belum siap, Pak."

"Tapi Bapak tetap ingin kamu menikah dengan anak Pak Yayan. Entah kamu siap atau tidak."

"Tapi Pak, Murni masih ingin sekolah."

"Bapak paham dengan keinginanmu, tapi Pak Yayan sudah memberitahukan kepada Bapak bahwa mereka menginginkan kamu menjadi istri Krisna. Kamu juga sudah tahu tentang istri Krisna yang meninggal dunia beberapa minggu yang lalu bukan?"

"Iya, Pak, Murni tahu kabar itu, tapi Murni belum mau menikah, Pak."

"Murni, sudah saatnya kamu membantu Bapak. Kamu lihatlah keadaan Bapak yang sakit-sakitan ini. Sudah berapa lama Bapak tidak lagi bisa berkerja? Lihat juga ibumu, adikmu. Bapak harap kamu paham kenapa kami memintamu untuk menerima Krisna sebagai suami."

"T-tapi, Pak ...."

"Setidaknya lakukan ini demi Bapak. Demi adikmu. Andai keadaan kita tidak seperti ini ...."

"Lantas bagaimana dengan sekolah Murni, Pak?"

"Lupakan sekolahmu. Jika kamu bersedia menerima Krisna sebagai suami, kamu akan bisa menyelamatkan keluarga kita. Tolong turuti permintaan kami kali ini."

***

Desa Lama, Juli 1995.

Namaku Murni. Hari ini tiba-tiba saja aku diminta Bapak untuk menerima seorang laki-laki untuk menjadi suamiku. Aku bersedih untuk hal itu, tapi aku juga harus sadar diri tentang keadaan keluarga. Bapak sudah hampir satu tahun ini menderita sakit. Aku dan Ibu tidak bisa berbuat banyak demi kesembuhan Bapak. Kami tidak memiliki uang untuk membawa Bapak ke dokter.

Sebelum sakit, Bapak bekerja kepada keluarga Pak Yayan untuk menjaga dan merawat sebagian kebun dan sawah mereka. Sedangkan Ibu, beliau seperti kebanyakan wanita di desa kami yaitu mengurus rumah tangga. Aku sendiri saat ini masih berstatus pelajar, dan masih duduk di bangku kelas dua SMU.

Kali ini aku harus pasrah dengan keadaan. Walau dengan berat hati, aku akan meninggalkan bangku SMU yang hanya kurang dari dua tahun lagi untuk menamatkannya jika menerima lamaran dari keluarga Pak Yayan.

Aku memang tidak terlalu mengenal dengan baik sosok Krisna yang katanya akan menjadi suamiku. Namun aku telah mendengar kabar angin tentang dirinya dari beberapa orang yang kukenal.

Krisna adalah anak bungsu dari keluarga Pak Yayan dari dua bersaudara. Mereka adalah keluarga terkaya di desa kami. Mereka memiliki ratusan hektar sawah dan kebun. Mereka juga mengelola sebuah peternakan sapi dan kambing yang sangat besar.

Beberapa minggu yang lalu, aku mendengar bahwa istri Krisna meninggal dunia. Padahal mereka belum lama menikah. Belum satu tahun. Aku tahu itu karena saat pernikahan mereka, keluarga Pak Yayan membuat sebuah pesta yang sangat meriah. Saat itu aku sempat hadir di sana untuk melihat pertunjukan musik yang diadakan.

Dengan apa yang terjadi, seharusnya aku ikut berbela sungkawa untuk Krisna, tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak wajar atas kematian istrinya.

Dari yang pernah kulihat, Krisna adalah seorang laki-laki yang manja namun kasar. Dia baru berusia dua puluh tiga tahun dan hidup hanya dengan mengandalkan harta kekayaan bapaknya. Sementara kakaknya, adalah laki-laki yang sudah menikah, dan terlihat lebih bekerja keras dalam menjalankan usaha sendiri.

Pak Yayan sendiri adalah seorang duda berusia lima puluh dua tahun. Orang-orang mengatakan bahwa beliau adalah orang yang baik. Banyak yang bersimpati kepada beliau, terutama tentang kehidupannya yang mampu bertahan selama lebih dari tujuh tahun hidup tanpa pendamping setelah ditinggal mati istrinya. Padahal jika beliau mau, aku yakin bukan hal sulit bagi dirinya untuk mencari pengganti istrinya yang telah tiada. Dengan kekayaannya, aku yakin Pak Yayan bisa mencari istri baru dari warga desa yang kebanyakan memang hidup serba kekurangan, atau mencari di tempat lain misalnya.

Entah kenapa beliau tidak melakukan itu. Mungkin itu yang dinamakan dengan kesetiaan. Entahlah, karena seumur hidup, aku bahkan belum pernah berpacaran.

Beberapa bulan lagi, aku akan genap berusia tujuh belas tahun. Di tempat yang jauh, dari beberapa film yang pernah kulihat di televisi, atau di beberapa novel yang pernah aku baca, seharusnya saat akan memasuki usia demikian, para gadis akan berbahagia dan bergembira ria bersama teman-temannya. Mereka akan membuat sebuah pesta lalu menari bersama. Sementara aku? Kini harus dihadapkan pada sebuah pilihan. Bahkan menurutku itu bukanlah sebuah pilihan karena merupakan jalan satu arah. Aku harus mengikuti jalan itu tanpa bisa berbalik.

Aku menghela napas berat ketika percakapan dengan Bapak tadi sore kembali terngiang.

"Terima lamaran Pak Yayan untuk Krisna. Ini adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk mengubah nasib."

"Kenapa harus Murni, Pak?"

"Krisna menyukai kamu. Itu sebabnya dia meminta bapaknya untuk melamar."

"Krisna baru saja kehilangan istri. Belum juga satu bulan. Kenapa dia tidak berduka?"

"Itu bukan urusan kita. Bapak yakin dia juga berduka, tapi mungkin dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan."

"Murni mendengar bahwa dia adalah laki-laki yang kasar."

"Dari mana kamu mendengar itu?"

"Beberapa orang mengatakan demikian."

"Tidak, Mur. Bapak yakin dia adalah laki-laki yang baik, sama seperti bapaknya."

"Kenapa Pak Yayan tidak melamar Murni untuk dirinya saja?"

"A-apa maksudmu?" Bapak terkejut dengan pertanyaan yang kuberikan.

"Jika Murni memang harus menikah sekarang, Murni lebih percaya bahwa Pak Yayan adalah orang yang bisa menjaga Murni dari pada anaknya, Krisna."

"Tidak mungkin Mur. Kamu tahu Pak Yayan adalah suami yang setia. Bahkan setelah kematian istrinya, dia tidak ingin mencari pengganti."

“Dari mana Bapak Tahu?”

“Tentu saja Bapak tahu, Mur.”

"Pak Yayan hanya belum menemukan wanita yang cocok mungkin,” ujarku bergumam.

"Ada apa denganmu Mur? Kenapa kamu malah membahas soal Pak Yayan?"

"Murni hanya merasa bahwa Bapak sedang menjual Murni kepada keluarga Pak Yayan."

***

Aku mulai merapikan buku-buku pelajaran sekolah kembali di atas meja. Aku tahu bahwa buku-buku tersebut sudah tidak ku perlukan lagi. Aku tidak bisa menolak keinginan Bapak untuk menerima lamaran tersebut.

Ini bukan hanya menyangkut soal diriku semata. Seperti yang dikatakan Bapak, ini adalah soal kehidupan kami. Belum lagi ketika aku berpikir tentang Ningsih, adikku. Tahun depan, ia akan tamat SD. Dengan kondisi kami yang seperti sekarang, aku tidak yakin kalau nantinya Ningsih bisa melanjutkan sekolah.

Mungkin dengan menerima lamaran dari keluarga Pak Yayan, maka akan bisa menjadi jalan keluar bagi keluarga kami dari himpitan ekonomi yang kian sulit. Aku yakin Pak Yayan telah menjanjikan sesuatu kepada Bapak ketika mengatakan akan melamarku. Aku kembali menghela napas untuk kesekian kalinya dan mengembalikan ingatan kepada percakapanku dengan Bapak.

"Kenapa istri Krisna meninggal, Pak?"

"Kenapa kamu tanya itu?"

"Aku mendengar tentang orang-orang yang mengatakan bahwa istri Krisna meninggal dengan tidak wajar."

"Kamu terlalu banyak mendengarkan kata orang, Mur."

"Murni hanya mendengarkan saja, Pak."

"Memangnya apa yang kamu dengar?"

"Tidak terlalu jelas, Pak. Tapi beberapa orang mengatakan bahwa sebagian curiga kalau istri Krisna meninggal karena dianiaya."

"Siapa yang mengatakan itu?"

"Murni lupa siapa yang mengatakan demikian. Kalau menurut Bapak, kenapa istri Krisna meninggal dunia?"

"Sudahlah, Mur. Tidak penting membicarakan orang yang sudah meninggal."

***

Sore ini, langit terlihat begitu mendung memayungi desa kami. Awan-awan hitam terlihat menggantung memenuhi angkasa dan siap untuk menumpahkan air yang mereka bawa. Begitu pula angin yang bertiup, yang seolah tidak lagi bersahabat. Embusannya terlihat kencang hingga mematahkan beberapa dahan pohon mangga yang ada di pekarangan rumah.

Tidak lama, suara tetasan air hujan mulai memenuhi seluruh indera pendengaran. Aku kini berdiri mematung menatap keluar jendela dengan perasaan yang semakin gelisah.