Pilihan
"Maafkan Ibu, Mur. Jangan kamu pikir Ibu tidak bersedih dengan keadaan ini."
Aku hanya memberi senyum kecil yang dipaksakan ketika Ibu berkata demikian.
"Tidak apa-apa Bu. Murni mengerti."
"Tolong jangan marah kepada bapakmu. Dia melakukan itu demi keluarga kita. Demi adikmu."
"Iya Bu. Murni paham. Tapi ...."
Ibu menghela napas berat lalu menarik lenganku dan menuntunku untuk duduk di bawah sementara beliau mengambil duduk di atas kursi plastik yang biasa kami gunakan untuk menonton televisi.
"Ibu menyayangimu. Menyayangi adikmu. Tapi kamu tahu keadaan kita," kata Ibu seraya perlahan meraih kepala dan mulai memilin rambut panjangku. Jari-jarinya lembut menyisir pucuk kepalaku. Aku memejamkan mata.
Dahulu Ibu sering melakukan hal demikian untuk mencari kutu di kepalaku. Aku senang ketika ibu melakukan itu karena bisa membuatku terbuai. Padahal Ibu tahu bahwa di kepalaku tidak pernah ditemukan seekor kutu pun.
Perlahan aku menyandarkan punggung di antara kedua kaki Ibu yang mengapitku lalu sedikit mendongakkan kepala dengan mata terpejam dan menikmati setiap belaian yang Ibu lakukan di antara rambut-rambutku.
"Ibu tahu kapan Pak Yayan memberitahukan kepada Bapak?" tanyaku pelan untuk memulai kembali percakapan.
"Soal apa?"
"Soal bahwa Krisna ingin memperistriku."
"Ibu tidak tahu persisnya. Bapakmu memberitahukan kepada Ibu beberapa hari yang lalu."
"Ibu tahu tentang Krisna?"
"Tahu bagaimana?"
"Ibu mengenalnya?"
"Tidak, Mur. Ibu tidak terlalu mengenal Krisna. Dia lama tinggal di kota. Baru beberapa tahun terakhir ini saja dia pulang kemari."
"Kalau tentang Kak Ayu?" tanyaku lagi.
"Istri Krisna?"
"Iya. Ibu mengenalnya?"
"Iya. Ibu mengenalnya. Dia dari desa sebelah. Kasihan dia. Ayu adalah wanita yang baik."
"Seingat Murni, mereka belum lama menikah. Kenapa tiba-tiba bisa meninggal?"
"Perkara umur kita tidak pernah tahu, Mur. Mungkin saja itu memang sudah takdirnya."
"Murni pernah mendengar bahwa Krisna adalah orang yang kasar. Apakah benar Bu?"
"Ibu tidak terlalu tahu soal itu."
"Beberapa orang mengatakan bahwa kematian Kak Ayu sangat mencurigakan."
"Mencurigakan bagaimana?"
"Kata orang-orang, almarhumah Kak Ayu sering dipukuli oleh Krisna semasa dalam pernikahannya."
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Ibu seraya menghentikan belaiannya.
Aku menggeleng pelan. "Murni cuma pernah mendengar orang-orang mengatakan hal itu, Bu."
"Sudahlah, Mur. Itu hanya prasangka orang saja. Jika memang benar Ayu meninggal karena dianiaya, pasti polisi sudah datang."
Aku diam mendengar perkataan Ibu. Namun otakku terus berkelana jauh mengingat perihal almarhum Kak Ayu.
Aku sendiri pernah beberapa kali berjumpa dengannya. Kak Ayu adalah wanita yang cantik. Sayangnya pertemuan kami yang terakhir tidak dalam keadaan yang baik.
Sebuah embusan napas berat kulakukan. Pikiranku dipenuhi oleh berbagai hal. Hatiku tengah dipeluk rasa gelisah. Ibu sepertinya menyadari keadaanku. Pelan beliau mengusap-usap pucuk kepalaku.
“Bu ....”
“Iya, Mur.”
“Bagaimana jika Murni meminta kepada Pak Yayan agar beliau bersedia menjadikan Murni sebagai istrinya?”
***
"Murni." Sebuah sapaan terdengar dari arah belakang ketika aku sedang berjalan pulang sendirian setelah usai sekolah.
Aku menoleh dari sumber suara. Seorang laki-laki muda terlihat berjalan cepat dan berusaha untuk menyusulku. Aku mengenal laki-laki itu. Dia adalah Krisna, anak dari Pak Yayan, keluarga paling kaya di desa kami.
Beberapa waktu ini, Krisna terus saja berusaha menggodaku. Padahal aku tahu bahwa dia sudah menikah.
"Sombong amat sih," katanya lagi setelah berhasil berjalan bersisian denganku.
"Ada apa?" tanyaku kepada Krisna seraya menghentikan langkah.
"Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin berjalan bareng kamu," kata Krisna lagi.
"Jangan, Bang. Nanti Kak Ayu marah," ucapku memperingatkan Krisna.
"Kamu tenang saja. Dia gak akan marah kok."
"Aku tidak ingin mendapat masalah, Bang," ujarku kemudian melanjutkan perjalanan. Krisna tetap mengikuti aku.
"Masalah apa?" tanya Krisna berusaha mengiringi langkahku.
"Bermasalah dengan keluarga Abang."
"Jangan khawatir, Mur. Aku akan memastikan bahwa kamu tidak akan mendapatkan masalah."
"Aku tidak percaya."
"Kamu harus percaya sama aku."
"Gak."
"Aku akan buktikan."
"Buktikan apa?”
“Buktikan bahwa kamu tidak akan mendapatkan masalah.” Aku cuma mencibir mendengar Krisna berkata demikian. "Kamu sudah punya pacar?" lanjut Krisna bertanya.
"Belum."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa belum punya pacar?"
Aku sedikit kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Krisna.
"Belum ada yang mau," jawabku asal-asalan.
"Ah, masa gadis secantik kamu ga ada yang mau?" tanya Krisna lagi. Aku tahu dia mulai bermaksud menggoda.
"Iya. Buktinya memang ga ada yang mau."
"Aku mau kok sama Kamu."
"Abang kan sudah menikah."
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku masih kecil. Ga boleh pacar-pacaran."
"Kecil apanya? Itu sudah besar," ujar Krisna dengan tatapan ke arah yang tidak seharusnya.
Kali ini aku benar-benar kesal dengan Krisna. Dia terlihat tidak sopan. Aku menghentikan langkah kembali.
"Nanti aku adukan sama Kak Ayu loh, Bang," ancamku.
"Mengadu soal apa?"
"Kalau Abang menggoda aku."
"Ya sudah kalau kamu mau mengadukan aku. Lagian dia ga akan marah kok."
"Sudah lah. Aku mau pulang."
"Kenapa buru-buru?"
"Aku tidak mau orang-orang berkata buruk tentang aku."
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya yang terakhir. Aku lebih memilih berlalu dan berjalan meninggalkannya.
"Murni, besok aku akan menunggumu lagi sepulang sekolah." Krisna berkata keras di belakang punggungku.
***
Malam itu, selepas salat Isya, aku sedang berada di dalam kamar bersama Ningsih, adikku.
Saat itu Ningsih terlihat tengah berkonsentrasi mengerjakan PR-nya. Aku yang tengah rebahan di atas pembaringan, lekat menatap wajah Ningsih dari samping. Ada perasaan yang semakin gelisah ketika aku memperhatikan wajah polos adikku satu-satunya itu.
Aku sedang memikirkan masa depan Ningsih. Di desa ini, rasanya belum ada wanita yang sukses menjadi kebanggaan keluarga. Kebanyakan wanita di desa ini, juga di desa-desa tetangga kami, rata-rata hanya bersekolah sampai SMP atau SMU, setelah itu mereka menikah dan hidup hanya sebagai ibu rumah tangga biasa.
Apakah Ningsih nantinya juga akan seperti itu? Bersekolah hingga SMP atau SMU, kemudian menikah.
Masih lekat aku menatap wajah Ningsih. Aku sangat yakin, kelak dia akan menjadi gadis yang cantik. Jika beruntung, seorang pemuda baik akan datang kepada keluarga kami untuk melamarnya, kemudian setelah beberapa waktu, pemuda itu akan membawa Ningsih pergi dari rumah kami.
Lantas bagaimana jika Ningsih akan bernasib sama seperti aku? Dihadapkan pada sebuah pilihan yang sebenarnya bukanlah pilihan. Sebuah keterpaksaan. Harus menikah kepada laki-laki yang tidak terlalu ia kenal.
Tidak. Ningsih tidak boleh sama sepertiku. Dia akan mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik.
Pikiranku kini kembali kepada Krisna, sosok yang dikatakan akan menjadi suamiku. Entahlah. Hati kecilku terus menolak laki-laki itu.
Aku tidak memiliki keyakinan yang cukup bahwa Krisna akan bisa memberikan jaminan demi kebaikan masa depan keluargaku. Aku tahu bahwa dia hanyalah seorang laki-laki yang hidup dari menumpang kekayaan bapaknya. Entah kenapa aku sangat yakin, menikah dengan Krisna hanya akan berakhir dengan kesedihan. Sama seperti yang dialami oleh keluarga almarhumah Kak Ayu.
Bagaimana dengan Pak Yayan? Bukankah akan lebih baik jika aku menikah saja dengan laki-laki paruh baya itu? Memang benar bahwa Pak Yayan bahkan lebih tua dari usia bapakku. Orang-orang akan mengatakan hal yang menjijikan karena selisih umur kami yang begitu jauh jika aku sampai menikah dengannya. Namun jika ini memang demi kebaikan keluargaku, aku tidak perlu mendengar apa yang orang lain akan katakan nantinya.
Ini hanya sebuah pilihan lainnya. Antara menikah dengan Krisna, anak dari orang paling kaya di desa kami dan yang kudengar berperangai buruk, atau sekalian saja menikah dengan bapaknya. Kudengar Pak Yayan adalah orang yang lembut dan baik hati.
Sekarang yang menjadi masalah, apakah Pak Yayan berkenan untuk menyudahi masa dudanya dan memperistri aku?
Aku sangat memahami, jika itu terjadi, pasti akan terjadi gejolak di dalam keluarga Pak Yayan. Tapi apa peduliku? Seperti kata Bapak, aku melakukan ini demi kebaikan keluarga. Demi Bapak, demi Ibu, terlebih lagi demi Ningsih.
Sementara, aku singkirkan saja rasa malu itu. Khayalanku tentang Pak Yayan, perlahan namun pasti, kini mulai memenuhi pikiran.
Hatiku kini mendadak bergemuruh.