LNCrawler

Sandiwara

Wanita Berselimut Api — gooddreamer.id · All chapters

Sandiwara

"Sudah beberapa hari ini, Murni tidak masuk sekolah tanpa kabar. Saya khawatir dan bertanya-tanya, ada apa?"

Hari itu wali kelas sekolahku datang ke rumah. Ada perasaan sedih dan malu ketika beliau bertanya kepada Bapak dan Ibu.

Aku yang mengintip dari balik tirai kamar berdebar kencang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh orang tuaku atas pertanyaan tersebut. Terus terang saja aku belum siap andai Bapak memberikan jawaban yang sesungguhnya.

Tiba-tiba saja aku mulai terbayang wajah teman-teman. Entah bagaimana pendapat mereka saat mengetahui bahwa aku akan berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah.

"Em, Murni beberapa hari ini sedang sakit, Bu." Terdengar Bapak memberi jawaban demikian. Entah kenapa aku menjadi lega.

"Sakit apa, Pak? Kenapa tidak ada yang memberi tahu kepada pihak sekolah?"

"Hanya demam biasa, Bu. Beberapa hari lagi mungkin dia akan sehat kembali,” jawab Bapak berbohong.

Aku melihat Bapak berkata dengan wajah gusar. Terlihat Bapak sangat tidak nyaman dengan percakapan tersebut.

"Di mana Murni, Pak?"

"Ada di kamarnya."

"Boleh saya melihatnya?"

"Sebentar saya panggil Murni dulu, Bu." Tiba-tiba Ibu berkata demikian dan segera bangkit untuk menuju ke kamarku.

Aku segera beralih dari balik tirai lalu duduk di tepi pembaringan.

"Gurumu datang," ucap Ibu ketika telah masuk ke dalam kamar.

"Iya, Murni tahu, Bu."

"Apa yang akan kamu katakan jika gurumu bertanya?"

"Murni akan mengatakan seperti yang tadi Bapak katakan."

"Kamu tidak akan berkata yang sebenarnya?"

"Tidak usah, Bu. Jika sudah saatnya, mereka juga akan tahu dengan sendirinya."

Ibu hanya mengangguk kecil mendengar jawabanku, lalu meminta supaya aku keluar untuk menemui guruku.

"Murni."

"Bu Siska."

"Bagaimana kabarmu, Nak?"

"Alhamdulillah sudah baikan, Bu."

"Kau masih terlihat pucat, Mur," ucap Bu Siska sembari menyentuh keningku dengan punggung tangannya.

"Mungkin karena masih dalam masa pemulihan, Bu,” kataku berbohong.

Sebenarnya yang terjadi adalah, aku menjadi kurang tidur dalam beberapa hari ini. Namun bukan karena sakit, tapi lebih karena banyak yang aku pikirkan.

"Ibu berharap, kau bisa lekas sembuh agar bisa kembali bersekolah. Sangat disayangkan jika kau ketinggalan pelajaran."

"Iya, Bu. Semoga saja bisa segera pulih."

"Murni ini adalah murid yang cerdas loh, Bu, Pak. Tahun kemarin, saat kenaikan kelas, nilai Murni jauh melampaui semua teman-temannya di kelas satu. Makanya dia mendapatkan predikat sebagai juara umum." Bu Siska berkata demikian kepada Bapak dan Ibu.

Bapak dan Ibu hanya tersenyum mendengar penuturan Bu Siska.

"Jika Murni bisa mempertahankan prestasinya, saya yakin pihak sekolah akan bisa merekomendasikan Murni untuk mendapatkan bea siswa kalau memang Murni ingin melanjutkan pendidikannya."

Aku menelan ludah yang mendadak terasa pahit saat mendengar ucapan tersebut, karena aku sudah tahu bagaimana kelanjutan tentang sekolahku. Ada perasaan perih yang perlahan mulai menyayat hati.

"Jadi bagaimana, Mur? Kapan kau akan bisa masuk kembali untuk bersekolah?"

"Secepatnya, Bu," jawabku singkat.

"Baiklah jika begitu. Jadi sekarang saya akan pamit. Kamu banyak-banyak istirahat ya agar bisa segera ketemu sama teman-temanmu," ucap Bu Siska seraya mengelus pucuk kepalaku.

Aku cuma tersenyum kecil dan membiarkan Bu Siska melakukan hal demikian.

"Dan satu lagi, ini ada titipan dari teman-teman dan beberapa guru untuk bantu-bantu membayar perobatan Murni. Jangan dilihat dari jumlahnya ya, Pak, Bu," kata Bu Siska sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Ibu.

Pada titik ini, rasanya aku sangat malu dan ingin menangis. Aku berusaha sekuat tenaga agar air mata tidak tertumpah.

"Terima kasih, Bu," ucap Ibu dengan suara yang bergetar.

"Baiklah, saya pamit. Cepat sembuh ya, Mur. Assalammu'alaikum."

"Wa'alaikum salam," jawab kami hampir bersamaan.

Setelah Bu Siska berlalu, aku benar-benar tidak mampu lagi untuk membendung air mata yang sedari tadi akan tertumpah.

Aku terisak di dalam kamar. Entah mengapa hatiku bagai disayat oleh ribuan bilah kulit bambu. Terasa sangat pedih dan menyakitkan. Aku pikir, aku telah siap dengan apa yang akan terjadi. Namun kenyataannya, aku hanyalah gadis kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak berpengalaman. Ingin menjerit rasanya saat itu.

Terbayang olehku bagaimana saat teman-teman mengumpulkan uang untuk diberikan kepadaku karena menyangka aku sakit. Dulu, saat ada teman yang sakit, aku juga terkadang ikut memberikan sumbangan yang dijalankan dalam sebuah kotak kardus kecil. Berharap semoga teman yang sakit segera sembuh dan bisa secepatnya masuk kembali ke sekolah.

Aku benar-benar merasa malu dan bersalah kepada mereka. Andai mereka tahu yang sebenarnya, aku yakin mereka akan mengolok-olokku. Aku kian membenamkan wajah ke dalam bantal. Dadaku semakin terasa sakit dan perih.

"Maafkan Ibu yang tidak bisa memenuhi keinginanmu, Mur." Sebuah ucapan terdengar lirih di telingaku. Tidak lama kemudian, belaian-belaian lembut kurasakan mengusap-usap pucuk kepalaku.

Ibu kini telah berada di sisi pembaringan. Sekali lagi aku berusaha dengan sekuat tenaga agar isakanku berhenti. Dadaku semakin sesak.

Aku segera membalikkan badan kemudian memeluk tubuh Ibu. Dengan lembut, Ibu membalas pelukanku. Kali ini aku merasakan sebuah kasih sayang yang tiba-tiba saja sangat kurindukan.

Pada akhirnya, aku menumpahkan semua tangisan dalam pelukan Ibu yang dengan sabar terus membelai kepala dan rambutku.

***

"Murni, nanti malam, Pak Yayan akan datang. Bapak ingin kamu menemuinya." Sore itu Bapak berkata kepadaku.

"Apakah Pak Yayan datang untuk sebuah lamaran?" tanyaku kepada Bapak.

"Tidak. Pak Yayan hanya akan bertanya langsung kepadamu, apakah kamu bersedia untuk menjadi menantunya atau tidak." Bapak memberitahukan perihal maksud kedatangan Pak Yayan.

"Murni harus menjawab apa, Pak?" tanyaku lagi.

"Katakan bahwa kamu bersedia untuk menjadi istri dari Krisna." Bapak berkata dengan suara tegas.

"Pak ...."

"Iya."

"Jika Murni bersedia, kapan mereka akan datang melakukan lamaran?"

"Itu belum ditentukan. Saat ini yang terpenting adalah, Pak Yayan tahu bahwa kamu bersedia untuk menjadi menantunya."

"Bagaimana dengan Krisna? Kenapa dia tidak datang sendiri kemari?"

"Soal itu, Bapak tidak tahu, Mur."

Aku menghela napas dengan jawaban Bapak.

"Jika begitu, nanti malam Murni akan menjumpai Pak Yayan, Pak."

"Ya sudah. Sekarang Bapak akan berlatih berjalan-jalan dulu supaya otot Bapak tidak kaku."

"Baik Pak."

Dengan tertatih, dengan dibantu sebuah tongkat kayu, Bapak mulai berjalan perlahan keluar rumah. Aku memandang punggung Bapak yang berjalan sangat pelan.

Dulu, sebelum Bapak dinyatakan terkena sakit gula dan diabetes, beliau adalah orang yang kuat. Membajak sawah atau membabat rumput di kebun milik Pak Yayan dapat dengan mudah beliau lakukan. Kini, saat masa sehatnya telah usai, bahkan untuk berjalan pun beliau sangat butuh perjuangan.

Aku yakin bahwa Bapak sangat ingin sembuh. Namun sayang, ketiadaan uang membuat kami tidak dapat membawa Bapak ke dokter.

Pak Yayan bukannya tidak membantu. Beberapa kali ia mengirimkan orang untuk mengantarkan uang kepada kami. Namun uang yang diberikan, hanya cukup untuk kami menyambung hidup.

Bapak juga selalu menolak saat uang dari pemberian Pak Yayan hendak dipergunakan untuk mengobati beliau. Bapak berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan caranya sendiri, dengan meminum obat-obatan tradisional.

Hari semakin senja, ketika saatnya aku memutuskan untuk membersihkan tubuh dan mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan Pak Yayan beberapa waktu lagi.