LNCrawler

Aku dan Kak Ayu

Wanita Berselimut Api — gooddreamer.id · All chapters

Aku dan Kak Ayu

Aku masih duduk di depan cermin setelah baru saja melaksanakan salat Maghrib dan menatap bayanganku sendiri.

Di dalam sana terlihat seorang gadis malang yang sekarang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi bisa menikmati masa-masa remaja yang seharusnya ia habiskan dengan teman-teman sebayanya.

Sebuah helaan napas berat kulakukan ketika aku mulai menyisir rambutku yang terurai melintasi bahu hingga ke bawah dada.

Beberapa saat lagi, Pak Yayan akan datang, tapi entah kenapa ingatanku kembali kepada pertemuan terakhirku dengan almarhumah Kak Ayu, istri dari Krisna.

***

Saat itu lonceng sekolah telah berbunyi dan menandakan bahwa jam pelajaran telah selesai.

Seperti biasa, aku selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kelas. Ketika melintasi halaman sekolah, keadaan sudah cukup sepi. Sebagian besar murid-murid telah meninggalkan tempat di mana mereka menimba ilmu.

"Kamu, Murni?"

Sebuah suara menghentikan langkahku ketika baru beberapa saat aku meninggalkan gerbang sekolah. Segera aku menoleh kepada asal suara.

"Kak Ayu?" Cukup terkejut aku ketika melihat siapa yang menyapa.

"Kau mengenal aku?" tanya Kak Ayu.

"Iya, tentu saja aku mengenal Kakak. Kita pernah beberapa kali bertemu sebelumnya," jawabku pasti.

"Syukur lah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi."

"Ada apa memangnya, Kak?"

"Aku perlu berbicara denganmu."

"Soal apa?"

"Ikut lah denganku. Ada yang ingin aku bicarakan."

Kak Ayu kemudian memintaku untuk naik ke atas sepeda motornya. Aku menurut dengan permintaannya.

Dengan dibonceng Kak Ayu, perlahan kami meninggalkan lokasi sekolah dan menuju ke sebuah tempat.

Saat itu, Kak Ayu ternyata membawaku ke tempat di mana biasanya Krisna selalu menunggu untuk menggoda ketika pulang sekolah.

Kak Ayu kemudian menghentikan laju sepeda motornya. Kami berdua kini sama-sama berdiri di tepi jalan.

"Aku akan langsung saja. Ada hubungan apa kau dengan suamiku?"

Jantungku sontak berdebar kencang dengan pertanyaan yang tidak pernah aku sangka sebelumnya.

"Hubungan bagaimana maksud Kakak?" tanyaku yang memang tidak mengerti dengan pertanyaannya.

"Jangan berpura-pura. Aku mendengar kalau suamiku sering menunggumu pulang sekolah di tempat ini."

"Iya benar. Bang Krisna memang beberapa minggu ini selalu ada di sini ketika aku pulang sekolah. Tapi itu bukan kemauanku. Sebaiknya Kakak tanya kan langsung kepada Bang Krisna kenapa dia selalu di sini saat aku pulang sekolah," kataku mencoba menjelaskan.

"Hari ini, apakah kalian tidak janjian untuk bertemu? Di mana dia sekarang?"

"Sudah aku katakan bahwa aku tidak tahu menahu kenapa Bang Krisna selalu berada di sini saat aku pulang sekolah. Apalagi sampai membuat janji segala."

"Aku tidak mempercayai ucapanmu."

"Aku mengatakan yang sebenarnya. Entah Kakak percaya atau tidak. Dan satu lagi, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Bang Krisna."

"Aku sudah bertanya dengan Bang Krisna. Dan dia mengatakan bahwa kalian memiliki hubungan khusus."

Deg. Jantungku seakan berhenti ketika Kak Ayu berkata demikian. Itu benar-benar di luar dugaan.

"Hubungan khusus bagaimana? Aku tidak mengerti, Kak."

"Apakah kau menyukai suamiku?" Sebuah pertanyaan yang seolah langsung kepada tuduhan meluncur dari bibir Kak Ayu.

"Tidak mungkin aku menyukai seseorang yang sudah beristri, Kak."

"Jangan berbohong!" sengit Kak Ayu melontarkan kalimat itu.

"Aku tidak berbohong, Kak. Apa perlu aku bersumpah?" Bibirku bergetar saat menjawab tuduhannya.

"Aku adalah istri sah dari Bang Krisna. Dan kau harus tahu bahwa aku akan mempertahankan rumah tangga kami dengan apapun caranya."

"Ayu!!"

Tiba-tiba sebuah suara dari balik pepohonan menyela percakapan antara aku dan Kak Ayu.

"A-Abang?" Kak Ayu tergagap.

Mendadak wajah Kak Ayu pucat pasi saat melihat siapa yang datang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Krisna kepada Kak Ayu.

"A-aku ...."

"Kamu diapakan sama dia, Mur?" Kali ini suami dari Kak Ayu itu mengalihkan pertanyaannya kepadaku.

Mendadak saja aku tidak menyukai situasinya. Laki-laki ini benar-benar membuatku merasa tidak nyaman.

"Tidak ada. Aku dan Kak Ayu hanya berbincang," ujarku sesaat setelah berhasil menenangkan diri.

"Kamu diancam oleh dia kan?" Wajah Krisna terlihat memerah. "Dari tadi aku mendengar kalau dia mencoba mengancam kamu," ucap Krisna lagi sembari menunjuk-nunjuk istrinya.

"T-tidak ada Bang. Aku tidak mengancam Murni."

PLAKKK

Tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kak Ayu yang putih hingga membuat perempuan mungil itu terhuyung. Aku terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Krisna.

"Apa-apaan, Bang? Kenapa menampar Kak Ayu?" sergahku dengan cepat seraya memeluk tubuh Kak Ayu agar tidak jatuh ke tanah.

"Kamu jangan dengarkan dia, Mur. Dia ini memang perempuan yang tidak tahu berterima kasih." Krisna berkata demikian sambil masih menahan amarahnya.

"Ini salah Bang. Bukan begini caranya. Kasihan Kak Ayu," ucapku menunjukkan rasa tidak senang dengan apa yang terjadi.

"Ayu, kau pulang sekarang. Kita akan selesaikan ini di rumah!" Laki-laki itu memberikan perintah.

Kak Ayu menurut dengan perintah dari Krisna. Aku sempat melihat ada buliran air mata yang menganak sungai di sudut matanya. Kak Ayu segera menaiki sepeda motornya dan meninggalkan kami tanpa berkata apa-apa.

"Jangan khawatir, Mur. Aku akan membereskan wanita sialan itu."

Aku hanya menggeleng pelan mendengar Krisna berkata demikian dan segera berlalu dari tempat itu.

"Besok, aku akan menunggumu lagi di sini."

Aku tidak memperdulikan ucapan laki-laki brengsek itu dan terus berjalan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah.

Itu adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan Kak Ayu hingga di kemudian hari, aku mendapatkan kabar bahwa wanita malang itu telah berpulang.

***

Aku menghela napas berat ketika ingatanku kembali ke masa ini. Aku masih di sini. Di kamar yang kecil ini, yang biasanya ku tempati bersama Ningsih.

Perlahan aku mulai menggelung rambutku yang sudah aku rapikan. Aku mencoba sebuah jilbab hitam dan memakainya di kepala.

Aku melirik kepada jam dinding. Sudah hampir jam setengah delapan.

Malam ini Pak Yayan akan datang. Aku kembali menatap wajah sendiri di cermin. Jika ada pilihan, aku lebih baik tidak usah menikah seumur hidup dari pada harus menikah dengan Krisna.

‘Sebuah pilihan? Jika orang lain tidak bisa memberiku sebuah pilihan, bukankah sebaiknya aku membuatnya sendiri?’ batinku berbisik.

Perlahan aku melepaskan jilbab yang tadi kukenakan dan mulai melepaskan kembali gulungan rambutku.

Sekali lagi aku mulai menyisir rambutku dan merapikannya kembali. Kali ini, aku akan membiarkan rambutku terbuka dan tergerai.

Sebentar lagi aku akan menemui Pak Yayan, dan aku akan berharap, bahwa pria paruh baya itu bisa membuka hatinya saat melihatku dan menyadari bahwa dia juga sebenarnya membutuhkan seorang pendamping untuk menemani hari-harinya.

Jika Pak Yayan berkenan melamar diriku untuk dirinya sendiri, maka aku akan mengabaikan semua omongan orang-orang tentangku nantinya, atau tentang keluargaku. Ini adalah pilihanku, dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menggapainya.