Bukan yang Kuharapkan
Jarum jam yang tergantung di dinding kulihat bergerak sangat lambat. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Aku telah selesai merias diri. Membaluri sedikit bedak pada wajah dan membiarkan rambutku tergerai hampir menyentuh pinggang. Kali ini, demi membuat Pak Yayan terkesan, aku tidak akan menutup kepalaku dengan kain atau pun jilbab.
Teman-teman dan beberapa guruku selalu mengatakan bahwa aku sangat cantik. Terlepas dari masalah himpitan ekonomi yang serba kekurangan, aku adalah gadis yang percaya diri. Aku tidak pernah takut untuk berbicara kepada orang lain. Tidak pernah pula merasa minder untuk menyampaikan pendapat.
Terlebih, dengan seringnya orang-orang memuji akan kecantikanku, aku juga menyadari bahwa aku adalah gadis yang jelita. Sebuah senyum tersungging pada bibirku yang tidak pernah berbalut lipstik. Kembali aku mengingat akan Pak Yayan.
Terus terang saja aku hanya pernah beberapa kali bertemu dengannya. Itu terjadi sudah cukup.lama, saat kemarin Bapak masih menjaga sebagian sawah dan kebun milik Pak Yayan.
Pak Yayan adalah orang yang ramah. Bicaranya lembut dengan wajah yang teduh. Aku masih ingat, walau usianya sudah melewati angka lima puluh, namun aura ketampanannya di masa lalu masih tergambar jelas pada garis wajahnya.
Bahkan jika dibandingkan dengan Bapak, Pak Yayan malah terlihat jauh lebih muda. Padahal dari yang aku dengar, usia Pak Yayan sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Bapak.
Reputasi Pak Yayan sebagai orang yang baik juga bukanlah isapan jempol semata. Semua orang di desa ini, juga desa-desa sebelah, sudah mengetahui perihal kebaikannya. Ia selalu memberi bantuan kepada orang-orang. Bahkan masjid yang berada di perbatasan desa, aku dengar Pak Yayan yang membangunnya.
Ini sangat berbanding terbalik dengan perangai Krisna, anaknya. Laki-laki itu sangat tidak sopan, kurang ajar dan berperilaku kasar. Jika di depanku saja dia tega menampar istrinya, bagaimana mungkin sekarang ia memintaku untuk menjadi istrinya?
Aku sungguh tidak habis pikir dengan perilaku Krisna. Padahal belum genap satu tahun ia menikahi Kak Ayu, lantas entah bagaimana, tiba-tiba saja dia selalu menggodaku saat pulang sekolah.
Tidak. Aku tidak akan mau menjadi korban dari Krisna. Aku sangat yakin, setelah nanti ia mendapatkan diriku, nasibku akan berakhir sama seperti yang dialami oleh Kak Ayu.
Dengan pertimbangan itu, tanpa ingin melawan kehendak orang tua, demi kebaikan masa depan Ningsih, sebaiknya sekalian saja aku menikah dengan bapaknya Krisna. Bukankah bagi kami pernikahan ini adalah demi uang? Dan Pak Yayan adalah pemilik uang dari yang biasa digunakan oleh Krisna. Aku yakin, jika Pak Yayan bersedia untuk menikahi aku, Bapak dan Ibu tidak akan berkeberatan. Sementara warga desa, jika pun ada yang nantinya akan bergunjing, aku yakin mereka tidak akan berani berbicara langsung di depan kami.
"Murni, ada yang ingin bertemu denganmu." Suara Ibu terdengar dan membuyarkan lamunanku.
Hei, apakah Pak Yayan telah tiba? Aku terlalu asyik melamun hingga tidak menyadari bahwa orang yang aku nantikan ternyata telah tiba.
Sekali lagi aku merapikan rambut dan menatap diriku di dalam cermin. Sudah. Aku sudah terlihat cantik.
Aku berjalan mengikuti langkah Ibu untuk keluar kamar. Jantungku berdegup kencang. Beberapa kalimat untuk Pak Yayan telah kusiapkan dan kuucapkan beberapa kali di dalam hati.
"Selamat malam, Murni."
Deg. Aku tidak menyukai suara itu. Aku juga tidak menyukai sosok yang datang. Kenapa bukan Pak Yayan yang datang? Kenapa jadi Krisna?
Tiba-tiba aku kehilangan seluruh gairah.
"Silahkan, Nak Krisna. Ngobrol dulu sama Murni. Ibu akan buatkan minuman." Ibu mempersilahkan laki-laki yang kini berdiri tepat di hadapanku kemudian berlalu ke belakang tanpa persetujuanku. Aku mengutuk situasi ini.
"Kenapa kamu melamun, Mur?" Suara itu terdengar lagi.
Aku mengambil tempat dudukku tanpa menghiraukan pertanyaan Krisna. Laki-laki itu ikut duduk di depanku.
"Kamu terlihat cantik sekali, Mur," ucap Krisna lekat memandang wajahku. Ah, aku menyesal kenapa tadi tidak memakai jilbab saja.
"Mana bapak Abang?" tanyaku mencoba bersikap biasa saja. "Kata Bapak, bukankah seharusnya bapak Abang yang datang malam ini?" tanyaku lagi.
"Bapak ga bisa datang. Lepas Maghrib tadi, ada orang dari desa sebelah ada urusan. Makanya Abang yang datang, supaya Murni, juga bapak dan ibu Murni tidak kecewa karena menunggu."
Aku menggeleng lemah seraya tanpa sadar mengulum kecil bibirku. 'Lebih baik kau tak usah datang sekalian saja,' kesalku dalam hati.
"Kamu terlihat berbeda malam ini, Mur." Krisna kembali mencoba percakapannya denganku.
"Berbeda bagaimana?"
"Kamu terlihat sangat cantik sekali. Sumpah." Laki-laki ini mulai menggombal.
"Kemarin juga Abang sudah sering melihatku. Sama saja menurutku," ucapku kepada Krisna dengan ketus.
"Tidak, Mur. Malam ini berbeda. Kamu memang sangat cantik sekali. Ah, tidak salah jika ternyata aku memang menyukai kamu." Krisna berkata demikian seraya pandangannya seolah menelanjangi diriku.
Aku merasa risih dengan tatapannya. Namun malam ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan laki-laki itu memandang dari atas kepala hingga ke kakiku. Iya, malam ini aku melepaskan jilbab yang biasa aku kenakan, dan hanya memakai kemeja hitam polos berlengan panjang yang dibeli lebih dari satu tahun yang lalu sehingga ukurannya menjadi sedikit tidak sesuai lagi dengan tubuhku.
Aku menyadari bahwa dadaku ketika memakai kemeja tersebut akan terlihat seolah membesar ke depan. Aku tahu itu dan memang sengaja memilih kemeja tersebut untuk dikenakan malam ini. Namun bukan untuk Krisna. Aku melakukan semua itu hanya demi untuk mendapat perhatian dari Pak Yayan.
Segera saja aku menyibakkan rambutku dan membiarkannya tergerai di depan untuk menutupi bagian dada.
"Kamu jangan khawatir, Mur. Secepatnya aku akan meminta Bapak untuk melamar kamu." Aku diam dengan pernyataan yang baru saja Krisna berikan.
‘Ah, ini tidak seperti yang aku harapkan.’
Beruntung, tidak lama kemudian, Ibu datang dengan membawa minuman. Aku sedikit lega dan berharap, Ibu akan duduk bersama kami di sini.
"Silahkan diminum tehnya, Nak," kata Ibu setelah meletakkan sebuah gelas berisi teh manis di dalamnya.
"Terima kasih, Bu," sahut Krisna sambil tersenyum kepada Ibu.
Tidak lama kemudian, Ibu kembali masuk dan meninggalkan kami.
Malam ini, aku tahu akan menjadi malam yang sangat menyebalkan. Sosok Krisna yang ada di hadapanku, sudah cukup untuk membuat dudukku tidak nyaman.
Aku sudah bisa menebak, laki-laki ini akan betah berlama-lama di sini dan mulai membicarakan hal-hal tentang diriku. Puja puji akan dia lontarkan dengan segala rayuan basinya. Matanya akan berfokus pada bibir dan dadaku.
Saat ini, satu-satunya yang aku harapkan terjadi adalah sebuah keajaiban. Atau bisa juga Tuhan mengirimkan “Doraemon” dengan membawa pintu ke mana saja lalu mengajakku masuk ke dalamnya. Jika itu terjadi, aku akan pergi ke rumah Krisna dan bicara dengan bapaknya.
Namun itu khayalanku semata dan tidak mungkin akan terjadi. Saat ini, yang paling aku inginkan adalah, hujan tidak turun karena dari pintu yang terbuka, terlihat embusan angin yang cukup kencang menerpa ranting dan dahan pepohonan yang ada di luar rumah.